DOC-308. Melakukan Hubungan Intim Hingga Imsak


 Ummu Salamah

24 Juni 2015 pukul 7:04

ASSALAMUALAIKUM WR WB ..
Numpang tanya ustad /ustadzh ..ada titipan ..
Ktika di pertenga'an malam lgi asyik nya jima' trnyata sdàh masuk imsak ..
Pertanyaan nya ...
Apakah mau di truskan sampai slesai hajat nya atau brhenti ...
Soal nya nanggung banget ....suka pusing kata nya ...qiqiqiqi ..penyakit nya lelaki suka pusing ...hihihihi ..
Syukron ksr ..
Wsslm ..

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Dipertengahan malam seseorang melakukan hubungan intim dan tanpa disadari masuk waktu imsak. Harus berhenti atau dilanjutkan?


     Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi atau yang lebih populer dengan sebutan Imam Nawawi menyatakan: Dan diperbolehkan melakukan aktifitas makan, minum dan melakukan hubungan intim hingga terbit fajar. Hal itu berdasar firman Allah subhanahu wa ta’ala:“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 187)
Jika seseorang melakukan hubungan intim sebelum terbit fajar dan ia masuk pagi dalam keadaan junub, maka ia boleh berpuasa. Karena sesungguhnya Allah subchanahu wa ta’al telah memberikan izin untuk melakukan hubungan intim hingga terbit fajar kemudian memerintahkan berpuasa. Dan secara implisit hal ini menunjukkan kebolehan berpuasa dalam kondisi junub.
     Syaikh Zainuddin bin Abdu al Aziz al Malibary juga menyatkan: “Jika fajar telah terbit sedang didalam mulut masih terdapat makanan (redaksi ini menunjukkan sebelum memasukkan sesuatu kedalam perut / hanya didalam mulut kemudian dikeluarkan), maka puasa yang dilaksanakan sah. Demikian juga jika seseorang melakukan hubungan intim saat fajar baru terbit, kemudian seketika itu juga ia mencabutnya, maka hal itu tidak membatalkan puasa walaupun ia mengeluarkan sperma. Karena mancabut penis dari dalam vagina (saat terbit fajar) adalah berkategori meninggalkan hubungan intim. Namun jika ia tidak mencabut seketika itu juga, maka puasa yang dilaksanakan adalah batal dan ia wajib mengganti serta membayar denda (kafarat).”
Namun Imam Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Haitami mengingatkan bahwa sesungguhnya pembuat syari’at mengecualikan niat puasa dengan niat ibadah yang lain dengan memposisikan kemauan (‘azam) setara dengan niat dikarenakan sulitnya mengawasi terbitnya fajar. Ini merupakan pendapat yang benar.
     Berdasar uraian tersebut di atas, seseorang yang melakukan hubungan intim sejak malam dan tanpa disadari masuk waktu imsak, maka keduanya dapat melanjutkan aktifitasnya hingga terbit fajar. Namun karena sulit untuk mengawasi dan mengetahui terbitnya fajar, maka dianjurkan untuk menyudahi dan menghentikan aktifitas hubungan intim yang sedang dilakukan pada saat masuk waktu imsak demi menjaga keafsahan puasa yang dilaksanakan. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

ويجوز أن يأكل ويشرب ويباشر الي طلوع الفجر لقوله تعالى (فالآن باشروهن وابتغوا ما كتب الله لكم وكلوا واشربوا حتى يتبين لكم الخيط الابيض من الخيط الاسود من الفجر) فان جامع قبل طلوع الفجر وأصبح وهو جنب جاز صومه لانه عز وجل لما أذن في المباشرة إلي طلوع الفجر ثم أمر بالصوم دل علي انه يجوز أن يصبح صائما وهو جنب
المجموع شرح المهذب - (ج 6 / ص 303)

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Abu Cenghood:

ولو طلع الفجر وفي فمه طعام فلفظه قبل أن ينزل منه شيء لجوفه: صح صومه وكذا لو كان مجامعا عند ابتداء طلوع الفجر فنزع في الحال أي عقب طلوعه فلا يفطر وإن أنزل لان النزع ترك للجماع.
فإن لم ينزع حالا: لم ينعقد الصوم وعليه القضاء والكفارة.
فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين (ص: 269)

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

أَوْ أَنَّ الشَّارِعَ أَقَامَ فِيهِ الْعَزْمَ مَقَامَ النِّيَّةِ لِعُسْرِ مُرَاقَبَةِ الْفَجْرِ، وَهُوَ الصَّحِيحُ شَيْخُنَا عِبَارَةُ سم.
تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي (1/ 195)



Daftar Pustaka:

  1. Al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. VI/ 303
  2. Fathu al-Mu’in. 269
  3. Tuhfah al-Muhtaj. I/ 195

=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
PERUMUS Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif

 


(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1636835899863297/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama