DOC-318. Hari Raya Bertepatan Hari Jum'at
Rohikul Mahtum
27 Juni 2015 pukul 2:17
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
Mf sbelumx kpd sesepuh MTTM khususx dan kpd anggota musawwiran/at........kmi mhn penjelasan Sholat aidil fitri/ adha yg bertepatan pd hari jum'at,adakah kelonggaran hukum yg menjatuhkan wajibnya Sholat Jum'at tersebut?.......trimakasih
WASSALAM
=========
JAWABAN:
Wa'alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Adakah kelonggaran hukum yang menggugurkan kewajiban shalat Jum'at ketika bertepatan dengan hari raya 'Idul fitri atau 'Idul adha?
Imam Abdul Karim bin Muchammad al Rafi'i al Quzwaini menyatakan bahwa ketika hari raya bertepatan dengan hari Jum'at dan penduduk pedalaman (ahli al qura), yaitu orang-orang yang mendengar kumandang adzan menghadiri pelaksanaan shalat 'Id dan mereka mengerti, jika mereka pulang (meninggalkan Masjid setelah melaksanakan shalat 'Id), niscaya mereka akan ketinggalan shalat Jum'at. Maka apakah mereka wajib bersabar (tidak pulang) dan menunggu pelaksanaan shalat Jum'at atau diperbolehkan bagi mereka untuk pulang dan meninggalkan shalat Jum'at? Maka dalam hal ini ada dua pendapat:
- Pendapat yang pertama menyatakan bahwa wajib bagi mereka (penduduk pedalaman, ahli al qura) untuk bersabar dan menunggu pelaksanaan shalat Jum'at sebagaimana penduduk setempat dan sebagaimana hari-hari yang lain.
- Pendapat yang lebih autentik (ashah) menyatakan bahwa diperbolehkan bagi mereka untuk pulang dan meniggalkan shalat Jum'at. Pendapat ini juga merupakan ketentuan Imam Syafi'i dalam pendapat terdahulu dan pendapat yang terbaru. Hal ini berdasar sebuah hadits yang menyatakan bahwa sesungguhnya pernah berkumpul dua hari raya (Jum'at dan hari raya) pada era Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam satu hari. Maka beliau melaksanakan shalat 'Id pada awal siang dan beliau bersabda: "Wahai orang-orang muslim, pada hari ini telah berkumpul dua hari raya bagi kalian, maka barang siapa suka menghadiri shalat Jum'at bersama kami, maka lakukanlah. Dan barang siapa lebih memilih untuk pulang (tidak melaksanakan shalat Jum'at), maka lakukanlah.
Al Quzwaini menyatakan bahwa yang dikehendaki oleh beliau (Rasulullah) adalah orang-orang yang berada didaerah sekitar perkotaan. Maka mereka berkewajiban untuk kembali ke Masjid guna melaksanakan shalat Jum'at jika mendengar seruan adzan.
Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi mengutip pernyataan Imam Syafi'i dan sahabat-sahabatnya yang menyatakan bahwa ketika hari Jum'at bertepatan dengan hari raya dan penduduk desa (pedalaman, ahli al-qura), yaitu orang-orang yang berkewajiban melaksanakan shalat Jum'at karena mendengar seruan adzan menghadiri pelaksanaan shalt 'Id, kemudian mereka melaksanakan shalat 'Id, maka kewajiban shalat Jum'at tidak gugur bagi penduduk setempat (ahli al-balad) tanpa adanya pro dan kontra dikalangan Ulama' pakar Fiqh. Adapun kewajiban shalat Jum'at bagi penduduk desa (pedalaman, ahli al qura) terjadi perbedaan pendapat dikalangan Ulama' sebagaimana berikut:
- Pendapat yang benar yang telah ditentukan oleh Imam Syafi'i di dalam kitab "al Um" dan pendapat terdahulu (qadim) menyatakan bahwa sesungguhnya kewajiban shalat Jum'at tidak gugur.
- Pendapat yang kedua menyatakan bahwa kewajiban shalat Jum'at telah gugur.
Dan aku menjawab bahwa pendapat yang kedua ini adalah dari pernyataan Utsman dan ketentuan Imam Syafi'i. Maka keduanya (pendapat-pendapat tersebut diatas) diarahkan kepada orang yang tidak mendengar seruan adzan. Jika diucapkan bahwa penafsiran ini adalah salah dikarenakan orang yang tidak mendengar seruan adzan tidak berkewajiban melaksanakan shalat Juma'at diselain hari raya, maka pada hari raya adalah lebih layak. Dan pendapat ini tidak berguna baginya (orang yang tidak mendengar seruan adzan). Maka jawabannya adalah sesungguhnya mereka (orang yang tidak mendengar seruan adzan, ahli al-qura) ketika mendatangi perkotaan (tempat didirikan shalat Jum'at) pada hari Jum'at selain hari hari raya, maka dimakruhkan bagi mereka untuk keluar sebelum melaksanakan shalat Jum'at. Urain ini dikemukakan oleh Imam al Machamili dan Syaikh Abu Chamid didalam kitab al Tajrid dan Imam-imam yang lain dari sahabat-sahabat kami (Ulama' dari kalangan madzhab Syafi'i). Mereka juga menyatakan bahwa ketika hal itu terjadi pada hari raya, maka kemakruhan tersebut dengan serta merta hilang. Utsman dan Imam Syafi'i juga menjelaskan hilangnya kemakruhan tersebut. Maka idealnya pendapat yang menyatakan gugurnya kewajiban shalat Jum'at adalah bagi penduduk desa (pedalaman, ahli al-qura) yang mendengar seruan adzan.
Di dalam literatur Fiqh (Rahmatul Ummah) dijelaskan bahwa jika hari raya bertepatan dengan hari Jum'at, maka menurut pendapat yang lebih autentik menurut Imam Syafi'i adalah sesungguhnya kewajiban melaksanakan shalat Jum'at bagi penduduk setempat (ahli al-balad) tidak gugur dengan melaksanakan shalat 'Id. Sedang bagi penduduk pedalaman (ahli al-qura) yang menghadiri pelaksanaan shalat 'Id, maka pendapat yang unggul (rajih) menurut Imam Syafi'i menyatakan gugurnya kewajiban untuk melaksanakan shalat Jum'at. Ketika mereka (peduduk pedalaman) melaksanakan shalat 'Id, maka diperbolehkan bagi mereka untuk pulang dan meninggalkan pelaksanaan shalat Jum'at. Imam Abu Hanifah menyatakan wajib bagi penduduk setempat (ahli al-balad) untuk melaksanakan shalat Jum'at. Imam Ahmad menyatakan bahwa kewajiban melaksanakan shalat Jum'at bagi penduduk setempat juga penduduk pedalaman telah gugur sebab telah melaksanakan shalat 'Id dengan tetap melaksanakan shalat dhuhur. Bahkan Imam al Atha' menyatakan bahwa pada hari itu kewajiban melaksanakan shalat Jum'at dan shalat dhuhur telah gugur secara bersamaan. Maka tidak ada kewajiban melaksanakan shalat selain shalat ashar setelah melaksanakan shalat 'Id.
Berdasar uraian tersebut di atas, dapat diketahui bahwa ketika hari raya ('Idul Fitri atau 'Idul Adha) bertepatan dengan hari Jum'at, maka terjadi perbedaan pendapat dikalangan Ulama' pakar Fiqh mengenai kewajiban melaksanakan shalat Jum'at sebagaimana pemapatan tersebut di atas. Wallahu a'lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Brojol Gemblung:
قال (وإذا كان العيد يوم الجمعة فلاهل السواد الرجوع قبل الجمعة وان كان النداء يبلغهم علي الصحيح للخبر)
إذا وافق العيد يوم الجمعة وحضر اهل القرى الذين يبلغهم النداء لصلاة العيد وعلموا أنهم لو انصرفوا لفاتتهم الجمعة فهل عليهم ان يصبروا الجمعة ام لهم أن ينصرفوا ويتركوها فيه وجهان (احد هما) عليهم الصبر كأهل المصر وكسائر الايام (واصحهما) ان لهم أن ينصرفوا ويتركوها ويحكى هذا عن نصه قديما وجديدا لما روى (انه اجتمع عيدان على عهد رسول الله صلي الله عليه وسلم في يوم واحد فصلي العيد في أول النهار وقال أيها الناس ان هذا يوم اجتمع لكم فيه عيدان فمن أحب منكم أن يشهد معنا الجمعة فليفعل ومن أحب أن ينصرف فليفعل) وأراد به أهل السواد وهذا هو الخبر الذى أبهم ذكره في الكتاب
فتح العزيز بشرح الوجيز = الشرح الكبير للرافعي (5/ 66)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
اما الْأَحْكَامُ فَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ إذَا اتَّفَقَ يَوْمُ جُمُعَةٍ يَوْمَ عِيدٍ وَحَضَرَ أَهْلُ الْقُرَى الَّذِينَ تَلْزَمُهُمْ الْجُمُعَةُ لِبُلُوغِ نِدَاءِ الْبَلَدِ فَصَلَّوْا الْعِيدَ لَمْ تَسْقُطْ الْجُمُعَةُ بِلَا خِلَافٍ عَنْ أَهْلِ الْبَلَدِ وَفِي أَهْلِ الْقُرَى وَجْهَانِ الصَّحِيحُ الْمَنْصُوصُ لِلشَّافِعِيِّ فِي الْأُمِّ وَالْقَدِيمُ أَنَّهَا تَسْقُطُ
(وَالثَّانِي)
لَا تَسْقُطُ وَدَلِيلُهَا فِي الْكِتَابِ وَأَجَابَ هَذَا الثَّانِي عَنْ قَوْلِ عُثْمَانَ وَنَصِّ الشَّافِعِيّ فَحَمَلَهُمَا عَلَى مَنْ لَا يَبْلُغُهُ النِّدَاءُ (فَإِنْ قِيلَ) هَذَا التَّأْوِيلُ بَاطِلٌ لِأَنَّ مَنْ لَا يَبْلُغُهُ النِّدَاءُ لَا جُمُعَةَ عَلَيْهِ فِي غَيْرِ يَوْمِ الْعِيدِ فَفِيهِ أَوْلَى فَلَا فَائِدَةَ فِي هَذَا الْقَوْلِ لَهُ (فَالْجَوَابُ) أَنَّ هَؤُلَاءِ إذَا حَضَرُوا الْبَلَدَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غَيْرَ يَوْمِ الْعِيدِ يُكْرَهُ لَهُمْ الْخُرُوجُ قَبْلَ أَنْ يُصَلُّوا الْجُمُعَةَ صَرَّحَ بِهَذَا كُلِّهِ الْمَحَامِلِيُّ وَالشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ فِي التَّجْرِيدِ وَغَيْرُهُمَا مِنْ الْأَصْحَابِ قَالُوا فَإِذَا كَانَ يَوْمَ عِيدٍ زَالَتْ تِلْكَ الْكَرَاهَةُ فَبَيَّنَ عُثْمَانُ وَالشَّافِعِيُّ زَوَالَهَا وَالْمَذْهَبُ مَا سَبَقَ وَهُوَ سُقُوطُهَا عَنْ أَهْلِ الْقُرَى الَّذِينَ يَبْلُغُهُمْ النِّدَاءُ
المجموع شرح المهذب (4/ 491)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi:
(فَصْلٌ) إِذَا اتَّفَقَ يَوْمُ عِيْدٍ وَيَوْمُ جُمْعَةٍ فَاْلأَصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ أَنَّ الْجُمْعَةَ لاَ تَسْقُطُ عَنْ أَهْلِ الْبَلَدِ بِصَلاَةِ الْعِيْدِ، وَأَمَّا مَنْ حَضَرَ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَالرَّاجِحُ عِنْدَهُ سُقُوْطُهَا عَنْهُمْ فَإِذَا صَلَّوْا الْعِيْدَ جَازَ لَهُمْ أَنْ يَنْصَرِفُوْا وَيَتْرُكُوْا الْجُمْعَةَ. وَقَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ بِوُجُوْبِ الْجُمْعَةِ عَلَى أَهْلِ الْبَلَدِ. وَقَالَ أَحْمَدُ لاَ تَجِبُ الْجُمْعَةُ عَلَى أَهْلِ الْقُرَى وَلاَ عَلَى أَهْلِ الْبَلَدِ، بَلْ يَسْقُطُ فَرْضُ الْجُمْعَةِ بِصَلاَةِ الْعِيْدِ وَيُصَلُّوْنَ الظُّهْرَ. وَقَالَ عَطَاءٌ: تَسْقُطُ الْجُمْعَةُ وَالظُّهْرُ مَعًا فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ فَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعِيْدِ إِلاَّ الْعَصْرَ. إه
رحمة الأمة ص: 69
Daftar Pustaka:
- Fatchu al Aziz Bi Syarchi al Wajiz. V/ 66
- Al Majmu' Syarch al Muhaddzab. IV/ 491
- Rachmah al Ummah. 69
=========
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1637592946454259/)

Komentar
Posting Komentar