DOC-321. Maksud hadits Nabi “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya”


 Nopi Darto

25 Mei 2015 pukul 23:36

Assalamu'alaikum..
Ustadz..
Mau tanya..
1. Diriwayatkan oleh Abdullah bin mas’ud Ia berkata bahwa Rasulullah saw.
Bersabda : “Seseorang itu bersama orang yang ia
cintai.” HR. Bukhari
Apa maksud dari hadits ini..?
2. Agar kita bersama dgn seseorang yg kita cintai di Akhirat nanti,
Maka ketentuan atau syarat2 apa saja yg Harus ada..?
Terimakasih..

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

I. Bagaimanakah maksud hadits Nabi “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya”?

II. Apa sajakah ketentuan dan syarat agar kita dapat bersama orang yang kita cintai?


     Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi didalam kitabnya Syarch Muslim menyebutkan sabda Rasulullah kepada orang yang bertanya tentang hari kiamat. Maka beliau menjawab: “Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari kiamat?.” Orang tersebut menjawab: “Kecintaan terhadap Allah dan Rasulnya.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.”
     Al-Nawawi menyatakan bahwa di dalam beberapa riwayat tentang “seseorang akan bersama orang yang dicintainya” terdapat keistimewaan cinta kepada Allah, Rasulullah, orang-orang shalih dan ahli kebajikan. Baik yang masih hidup ataupun telah meninggal. Dan diantara keistimewaan cinta terhadap Allah dan Rasulnya adalah pengaplikasian kecintaan dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya serta berbudi pekerti dengan budi pekerti yang sesuai dengan syari’at. Sedang pengambilan manfa’at dengan kecintaan terhadap orang-orang shalih tidak disyaratkan harus melakukan hal-hal yang dilakukan oleh mereka (orang shalih). Karena jika ia melakukan hal yang sama, maka ia akan termasuk didalamnya.
     Imam Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al Mubarakfuri; Abu al ‘Ula di dalam kitabnya "Tuhfah al-Ahwadzi" juga mengulas tentang hadits “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.” Ya’ni seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya. Dan ia akan menjadi partner orang yang dicintainya dalam mencari hal-hal yang diinginkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: "Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. Yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya". (QS. Al Nisa’: 69)
     Al Mubarakfuri menyatakan bahwa secara eksplisit hadits tersebut di atas menunjukkan arti yang universal (umum) yang meliputi orang shalih juga orang yang durhaka dan hal itu diperkuat oleh hadits yang menyatakan bahwa “Seseorang berdasar agama kekasihnya.” Maka secara implisit, hadits tersebut mengandung unsur motifasi (untuk mencintai dan mengidolakan orang shalih) juga peringatan (untuk tidak mencintai dan tidak mengidolakan orang durhaka). Didalamnya terdapat janji sekaligus ancaman. Dan baginya akibat dari yang telah diperbuat.
     Al Mubarakfuri menegaskan bahwa arti dari hadits “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya” adalah jika seseorang mencintai sebuah kaum, maka ia termasuk dalam golongannya walaupun ia tidak melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang yang dicintai dan diidolakannya. Karena telah terbina sebuah kedekatan diantara hati mereka. Dan terkadang kecintaan tersebut dapat berpengaruh untuk melakukan hal yang sama. Maka didalam hadits tersebut terdapat dorongan dan motifasi untuk mencintai serta mengidolakan orang-orang shalih dan orang-orang terpilih agar dapat bersama mereka dan terhindar dari api neraka. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Preman Berr Tasbih:

( باب المرء مع من أحب )
قوله صلى الله عليه و سلم للذي سأله عن الساعة [ 2639 ] 0ماأعددت لها قال حب الله ورسوله قال أنت مع من أحببت ) وفي [ 2640 ] [ 2641 ] روايات المرء مع من أحب فيه فضل حب الله ورسوله صلى الله عليه و سلم والصالحين واهل الخير الاحياء والاموات ومن فضل محبة الله ورسوله امتثال امرهما واجتناب نهيهما والتأدب بالآداب الشرعية ولا يشترط في الانتفاع بمحبة الصالحين أن يعمل عملهم اذ لو عمله لكان منهم
شرح النووي على مسلم - (ج 16 / ص 186)

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

( باب ما جاء أن المرء مع من أحب )
[ 2386 ] قوله قوله عن أشعث بن سوار الكندي النجار الأفرق الأثرم صاحب التوابيت قاضي الأهواز ضعيف من السادسة
قوله المرء مع من أحب أي يحشر مع محبوبه ويكون رفيقا لمطلوبه قال تعالى ومن يطع الله والرسول فأولئك مع الذين أنعم الله عليهم الآية وظاهر الحديث العموم الشامل للصالح والطالح ويؤيده حديث المرء على دين خليله كما مر ففيه ترغيب وترهيب ووعد ووعيد وله ما اكتسب.............
وفي بعض طرق حديث صفوان بن عسال عند أبي نعيم ولم يعمل بمثل عملهم وهو يفسر المراد انتهى ( المرء مع من أحب ) يعني من أحب قوما بالإخلاص يكون من زمرتهم وإن لم يعمل عملهم لثبوت التقارب بين قلوبهم وربما تؤدي تلك المحبة إلى موافقتهم وفيه حث على محبة الصلحاء والأخيار رجاء اللحاق بهم والخلاص من النار
تحفة الأحوذي - (ج 7 / ص 51)

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Aqil Fauzan:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: «وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا». قَالَ: لاَ شَيْءَ، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ، فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ» قَالَ أَنَسٌ: «فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ»
صحيح البخاري (5/ 12)


Daftar Pustaka:

  1. Syarh Al Nawai ‘Ala Al-Muslim. XVI/ 186
  2. Tuhfah Al-Ahwadzi. VII/ 51
  3. Shahih Al-Bukhari. V/ 12

=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
PERUMUS Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif

 


(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1625775334302687/?hc_location=ufi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama