DOC-326. Usia Ideal Bagi Wanita Untuk Menikah
Imam Qulyubi
12 Juni 2015 pukul 11:39
assalamu alaikum
Masalah :
Di kampung sy sepertinya sudah mentradisi bagi para gadis menikah di bawah umur (masih kecil) , sehingga timbul dalam benak sy sebuah pertanyaan :
- Sebenarnya menurut syari'at umur berapakah wanita itu yang baik untuk menikah ?
- apakah tidak bahaya kalau menikah terlalu kecil bagi wanita ?
mohon jawabannya ustad , trimksih.
=========
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
I. Pada usia berapakah yang tebaik bagi wanita untuk menikah?
II. Apakah tidak berbahaya jika wanita menikah pada usia dini?
Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitab "Syarh al-Nawawi ‘Ala Muslim" menampilkan sebuah bab yang menjelaskan tentang kebolehan bagi seorang bapak untuk menikahkan anak gadisnya yang masih kecil. Di dalam bab tersebut terdapat sebuah hadits dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anha. Beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku pada saat aku berusia enam tahun. Dan membangun rumah tangga denganku pada saat aku berusia sembilan tahun.” Di dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya (‘Aisyah) pada saat berusia tujuh tahun. Dan ini jelas menunjukkan kebolehan seorang bapak untuk menikahkan anak gadisnya yang masih kecil tanpa adanya izin. Kakek laksana seorang bapak menurut kami (Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i). Dan semua orang muslim sepakat atas kebolehan seorang bapak untuk menikahkan anak gadisnya yang masih kecil berdasar hadits tersebut di atas.
Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili juga menjelaskan bahwa dalam kebolehan sorang bapak untuk menikahkan anak gadisnya yang masih kecil, Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i menyaratkan harus ada sebuah kemaslahatan. Al-Zuhaili juga mengutip pernyataan Imam bin Syibramah dan Abu Bakar al-Asham juga Utsman yang menyatakan bahwa tidak boleh menikahi anak yang masih kecil hingga mencapai usia baligh. Hal itu berdasar firman Allah: “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (diantara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai pengawas (atas persaksian itu).” (QS. Al Nisa’: 6)
Mereka juga menegaskan bahwa jikalau pernikahan boleh dilakukan sebelum mencapai usia baligh, maka hal itu tidaklah berguna. Karena anak yang masih kecil tidak membutuhkan pernikahan.
Sedang Imam Muhammad bin Ibrahim bin Mundzir menegaskan bahwa semua Ulama’ sepakat menyatakan bahwa sesungguhnya diperbolehkan bagi seorang bapak untuk menikahkan anak gadisnya yang masih kecil jika memang dinikahkan dengan laki-laki yang sepadan (kufu’).
Di dalam sebuah literatur diungkapkan bahwa tidak seyogyanya bagi kalangan laki-laki menyetubuhi istrinya kecuali setelah berusia dua belas tahun. Sebab hal itu dapat membahayakan dan melemahkan terhadap istri sebagaimana pelemahan akibat darah yang terkuras dan terputusnya urat. Maka lebih idealnya wanita adalah setelah mencapai usia baligh dan memasuki usia tiga belas tahun. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Aqil Fauzan:
( باب جواز تزويج الأب البكر الصغيرة )
[ 1422 ] فيه حديث عائشة رضي الله عنها قالت ( تزوجني رسول الله صلى الله عليه و سلم لست سنين وبنى بي وأنا بنت تسع سنين ) وفي رواية تزوجها وهي بنت سبع سنين هذا صريح في جواز تزويج الأب الصغيرة بغير اذنها لأنه لا اذن لها والجد كالأب عندنا وقد سبق في الباب الماضي بسط الاختلاف في اشتراط الولي وأجمع المسلمون على جواز تزويجه بنته البكر الصغيرة لهذا الحديث
شرح النووي على مسلم - (ج 9 / ص 206)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Aqil Fauzan:
وكذلك اشترط الشافعية في تزويج الصغير وجود المصلحة،
الفقه الإسلامي وأدلته - (ج 9 / ص 174)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Wes Qie:
المبحث الأول ـ أهلية الزوجين :
يرى ابن شبرمة وأبو بكر الأصم وعثمان البتي رحمهم الله أنه لا يزوج الصغير والصغيرة حتى يبلغا، لقوله تعالى: {حتى إذا بلغوا النكاح} [النساء:6/4] فلو جاز التزويج قبل البلوغ، لم يكن لهذا فائدة، ولأنه لا حاجة بهما إلى النكاح. ورأى ابن حزم أنه يجوز تزويج الصغيرة عملاً بالآثار المروية في ذلك. أما تزويج الصغير فباطل حتى يبلغ، وإذا وقع فهو مفسوخ (1) .
ولم يشترط جمهور الفقهاء لانعقاد الزواج: البلوغ والعقل، وقالوا بصحة زواج الصغير والمجنون.
الفقه الإسلامي وأدلته - (ج 9 / ص 171)
Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
وأجمعوا أن نكاح الأب ابنته الصغيرة البكر جائز إذا زوجها من كفء
الإجماع لابن المنذر - (ج 1 / ص 77)
Dasar pengambilan (5) oleh Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi:
وقالو لاينبغي للرجل ان يباشر المرأة الا بعد اثنتى عشرة سنة فإنها فيما دون ذلك من السن يضر اتيانه اياها بها وبه ويضعفها كما يضعف نزف الدم وقطع العروق فأول الكمال الجارية بلوغها هذا القدر من السن ودخولها ثلاث عشر سنة. اه
ﺭﺟﻮﻉ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺇﻟﻰ ﺻﺒﺎﻩ ﻓﻰ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﺎﻩ ﻷﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺍﻟﺸﻬﻴﺮ ﺑﺎﺑﻦ ﻛﻤﺎﻝ ﺑﺎﺷﺎ ص ١١٤
Daftar Pustaka:
- Syarh al-Nawawi ‘Ala Muslim. IX/ 206
- Al-Fiqh al-Islam Wa Adillatuhu. IX/ 174
- Al Fiqh al-Islam Wa Adillatuhu. IX/ 171
- Al-Ijma’ Li Ibni Mundzir. I/ 77
- Ruju’u al Syaikh Ila Shibah. 114
=========
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
PERUMUS Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1632356283644592/)

Komentar
Posting Komentar