DOC-332. Seputar Zakat Dan Orang-orang Yang Berhak Menerima Zakat


 Dukun AS

6 Juli 2015 pukul 2:10

السلام عليكم.....
Sugeng enjing.....
Sebelum sy minta mf,jka mengganggu aktivitas fara ustadz/ ustadzah,dan seluruh jamaah/ member grup MTTM semua.
perkenankanlah sy mengajukan beberapa pertanyaan seputar zakat fitrah.
pertanyaannya:
1.mohon uraikan tentang 8 asnaf yg berhak menerima zakat.
2.Apakah seorng guru ngaji yg mendapatkan gaji tiap bln dan seorng santri yg masih menuntut ilmu di pondok pesantren termasuk katagori sabilillah? dan boleh menerima zakat?..
3.Apakah boleh zakat fitrah menggunakan uang?
terimakasih sebelumnya.
Dan skali mohon mf jka menyita waktunya.
السلام عليكم....

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

1. Siapa sajakah orang-orang yang berhak menerima zakat?

2. Apakah guru ngaji bergaji dan santri berhak menerima zakat?

3. Bolehkan mengeluarkan zakat fitrah dengan uang?


I.      Allah subchanahu wa ta’ala berfirman: "Sesungguhnya sedekah-sedekah (zakat-zakat) itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana". (QS. Al Taubah: 60)
     Imam Syafi’i didalam Fiqh al Ibadahnya menjelaskan sebagai berikut:

1. Fakir adalah orang yang sama sekali tidak memiliki harta dan tidak mampu untuk bekerja dengan pekerjaan yang halal guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Atau memiliki harta dan (atau) pekerjaan namun tidak mencukupi dengan hanya memiliki kurang dari setengah dari sesuatu yang mencukupi kebutuhan hidupnya (kifayah) (dengan) diprosentasekan terhadap usia manusia pada umumnya, yaitu 62 tahun.
2. Miskin adalah orang yang memiliki harta atau pekerjaan atau keduanya namun tidak dapat mencukupi kebutuhannya dengan memiliki sebanyak 50 hingga 90 dari 100 kebutuhannya. Maka kondisi orang miskin lebih baik dari pada orang fakir.
3. Pengurus zakat (Amil) adalah orang yang bertugas mengumpulkan dan mendistribusikan zakat.
4. Muallaf terbagi menjadi empat. Yaitu:
  • Orang yang baru masuk Islam dan memiliki keimanan yang masih lemah. Maka ia diberi zakat agar keimanannya menjadi lebih kuat.
  • Orang yang masuk Islam dan memiliki kedudukan dalam masyarakanya. Dan diharapkan keislaman orang lain dengan memberi zakat kepadanya. Maka ia berhak menerima zakat walaupun keimanannya telah kuat.
  • Orang Islam yang memiliki keimanan yang kuat yang mampu memerangi orang-orang kafir disekitarnya.
  • Orang Islam yang memiliki keimanan yang kuat yang mampu memerangi atau menakut-nakuti orang yang menolak mengeluarkan zakat.
5. Budak mukatab adalah orang yang ditawan oleh orang kafir. Maka ia berhak mendapatkan zakat untuk membebaskannya dari perbudakan.

6. Orang yang memiliki hutang terbagi menjadi tiga bagian. Yaitu:
  • Orang yang berhutang untuk menetralisir dan meredam fitnah yang terjadi diantara dua kubu yang sedang bertikai dalam masalah pembunuhan yang tidak diketahui pembunuhnya. Maka hutang tersebut dibayar dengan zakat walau ia mampu membayarnya. Demikian juga orang yang berhutang untuk kepentingan umum seperti membangun Masjid Jami’.
  • Orang yang berhutang untuk kepentingan diri dan (atau) keluarganya dan membelanjakannya dalam hal yang tidak dilarang (bukan ma’siat, mubah) atau dalam kema’siatan kemudian bertaubat dan ia tidak mampu membayarnya.
  • Orang yang memiliki hutang karena menjamin orang lain yang tidak mampu membayar hutang.
7. Sabilillah adalah orang laki-laki yang berjuang dan berperang dijalan Allah yang tidak mendapat bagian untuk orang yang berperang dari Negara (relawan). Maka mereka berhak menerima zakat walaupun kaya.

8. Ibnu sabil adalah orang yang sedang dalam perjalanan (bukan perjalanan ma’siat) yang mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya. Maka ia diberi bagian zakat sekiranya ia dapat kembali ke Negara atau hartanya.


II.      Didalam sebuah literatur (Jawahir al Bukhari) dijelaskan bahwa Syaikh Muchammad Musthafa telah berkata: “Pendistribusian zakat kepada orang-orang yang berperang dijalan Allah (sabilillah) dengan suka rela adalah sebagai subsidi atas perang (jihad) yang dilaksanakan. Dan termasuk dalam kategori sabillah adalah orang-orang yang mempelajari ilmu syari’at, orang-orang yang menunjukkan terhadap kebenaran, orang-orang yang menuntut keadilan, orang-orang yang menegakkan kejujuran, orang-orang yang memberikan nasehat dan bimbingan juga orang-orang yang membela agama Allah.”

Mengacu kepada pendapat Syaikh Muchammad Musthafa tersebut, maka guru ngaji bergaji berhak menerima zakat. (Lihat Doc MTTM No: 392 atau silahkan klik tautan ini: http://taklimtanahmerah.com/konsultasi-agama-2/zakat/389-doc-392-hukum-memberikan-zakat-kepada-guru-ngaji-yang-bergaji.html)

Didalam kitab yang diterbitkan oleh kementrian urusan agama dan waqaf Kuwait (al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah) juga dijelaskan bahwa semua Ulama’ pakar Fiqh telah sepakat atas kebolehan memberikan zakat kepada orang-orang yang sedang mempelajari ilmu (santri). Pendapat ini telah dikemukakan oleh Ulama’ dari kalangan madzhab Chanafi, Syafi’i dan Chambali yang juga tersirat dari kalangan madzhab Maliki. Maka santri berhak menerima zakat.

III.      Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi didalam kitabnya Majmu’ Syarch al Muhaddzab menjelaskan bahwa nilai tukar (uang) dalam pendistribusian zakat fitrah tidak mencukupi menurut kami (Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i). Pendapat ini juga dikemukakan oleh Imam Malik, Imam Achmad dan Imam Ibnu al Mundzir. Sedang Imam Abu Chanifah menyatakan boleh. Pendapat ini diceritakan oleh Imam Ibnu al Mundzir dari al Chasan al Bashri, Umar bin Abdul Aziz dan al Tsauri. Imam Ischaq dan Abu Tsaur menyatakan tidak mencukupi (tidak boleh) kecuali dalam kondisi darurat.(Lihat Doc MTTM No: 108 atau klik tautan ini: http://taklimtanahmerah.com/konsultasi-agama-2/zakat/103-doc-108-hukum-kadar-zakat-fitrah-dan-pandangan-fiqih-bagi-orang-yang-membayar-dengan-harganya.html). Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

شرح الأصناف الثمانية :
- 1 - الفقير : هو من لا مال له أصلا ولا كسب من حلال أو له مال أو كسب دون أن يكفيه أي من ذلك بأن كان أقل من نصف الكفاية وتعتبر الكفاية بالنسبة للعمر الغالب وهو اثنان وستون سنة ( 3 ) . وإذا كان الشخص ذو الصفات السابقة يملك نصابا فأكثر فإنه يعطي زكاته مع كونه هو أهلا لأخذ زكاة غيره
ويعتبر من حاجياته المطعم والمسكن والملبس وغيرها مما لا بد منه له ولمن عليه نفقته ومما يليق بحاله من غير سرف ولا تقتير وكذا الحاجيات التي أصبحت اليوم من الضروريات كالبرادة والغسالة وآلات طهي الطعام الحديثة أما المذياع والتلفاز فليسا من الضروريات
- 2 - المسكين : هو من له مال أو كسب أو كلاهما معا مما يكفيه بمقدار خمسين إلى تسعين في المائة من حاجياته . وهكذا يكون المسكين أحسن حالا من الفقير
ويمنع الفقر والمسكنة كفاية الشخص بنفقة قريب أو زوج لانتفاء الحاجة عندئذ.............

- العامل : ويشمل كل من استعمله الإمام لجباية الزكاة من جامع الزكاة والكاتب ( 4 ) والقاسم ( 5 ) والحاشر ( 6 ) دون القاضي أو الوالي ويجب أن يكون فقيها في الزكاة عالما بأحكامها . وتعطى الزكاة ولو كان غنيا على سبيل الأجرة فيعطى بقدر أجر مثله وذلك إذا لم تكن له أجرة مقدرة من قبل الإمام
- 4 - المؤلفة قلوبهم : وهم أربعة أقسام كلهم مسلمون ( 7 ) :
- 1 - ضعيف الإيمان الذي أسلم حديثا فيعطى منها ليقوى إيمانه
- 2 - من أسلم وله شرف في قومه ويتوقع بإعطائه من الزكاة إسلام غيره من الكفار فيعطى ولو كان قوي الإيمان
- 3 - مسلم قوي الإيمان يتوقع بإعطائه أن يكفينا شر من وراءه من الكفار
- 4 - مسلم يكفينا شر مانعي الزكاة
- 5 - الرقاب : هم المكاتبون ( 8 ) مكاتبة صحيحة فيعطون ما يعينهم على العتق إن لم يكن معهم ما يفي بنجومهم ( 9 ) . أما مكاتبو المزكي فلا يعطون من زكاته لعود الفائدة إليه من كون المعطى ملكه
- 6 - الغارم ( 10 ) : وأقسامه ثلاثة :
- 1 - مدين لتسكين فتنة بين طائفتين في قتيل لم يظهر قاتله فيقضى دينه من سهم الغارمين سواء كان غنيا أو فقيرا ( 11 )
وكذلك لو استدان لمصلحة عامة كبناء جامع
- 2 - من استدان في مصلحة نفسه أو عياله ( 12 ) وصرف ذلك في مباح أو في معصية ثم تاب ( 13 )
- 3 - من عليه دين بسبب ضمان لغيره وكان معسرا هو والمضمون إذا كان الضمان بإذنه أما إن تبرع هو بالضمان دون إذن المضمون فيعطى متى أعسر هو ولو أيسر المضمون
ويعطى الغارم من الزكاة ما يسد دينه
- 7 - في سبيل الله : هم الغزاة الذكور المتطوعون بالجهاد وليس لهم نصيب من المخصصات للغزاة في الدولة فيعطون من الزكاة ولو كانوا أغنياء إعانة لهم على الغزو ويجب على كل منهم أن يرد ما أخذه إن لم يغر وكذلك ما فضل بعد الغزو
- 8 - ابن السبيل : هو من ينشئ سفرا من بلد الزكاة أو يكون مجتازا لها فهذا يعطى من الزكاة ما يوصله إلى بلده أو ماله بشرط كونه محتاجا عندئذ وبشرط ألا يكون عاصيا بسفره فلو سافر لمعصية لم يعط وكذا الهائم في سفره دون هدف فإنه لا يعطى أيضا
فقه العبادات - شافعي - (ج 1 / ص 655)

Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:

قال الشيخ محمد مصطفى عمارة اهل سبيل الله اى الغزاة المتطوعون بالجهاد وان كانوا اغنياء اعانة على الجهاد ويدخل في ذلك طلبة العلم الشرعي ورواد الحق وطلاب العدل ومقيم الانصاف والوعظ والارشاد وناصر الدين. اه

جواهر البخاري القسطلاني – ص 192

Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Brojol Gemblung:

اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى جَوَازِ إِعْطَاءِ الزَّكَاةِ لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَقَدْ صَرَّحَ بِذَلِكَ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ، وَالْحَنَابِلَةُ، وَهُوَ مَا يُفْهَمُ مِنْ مَذْهَبِ الْمَالِكِيَّةِ، إِذْ أَنَّهُمْ يُجَوِّزُونَ إِعْطَاءَ الزَّكَاةِ لِلصَّحِيحِ الْقَادِرِ عَلَى الْكَسْبِ، وَلَوْ كَانَ تَرْكُهُ التَّكَسُّبَ اخْتِيَارًا عَلَى الْمَشْهُورِ.
الموسوعة الفقهية الكويتية (28/ 336)

Dasar pengambilan (4) oleh Al-Ustadz Brojol Gemblung:

(مَسْأَلَةٌ) لَا تُجْزِئُ الْقِيمَةُ فِي الْفِطْرَةِ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَابْنُ الْمُنْذِرِ
* وقال أبو حنيفة يجوز وحكاه ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَعُمَرَ بْنِ عبد العزيز والثوري قال وقال اسحق وَأَبُو ثَوْرٍ لَا تُجْزِئُ إلَّا عِنْدَ الضَّرُورَةِ

المجموع شرح المهذب (6/ 144)

Daftar Pustaka:

  1. Fiqh al-Ibadah-Syafi’i. I/ 655
  2. Jawahir al-Bukhari al-Qasthalani. 192
  3. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah. XXVIII/ 336
  4. Al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. VI/ 144

=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
PERUMUS Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif


(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1640273129519574/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama