DOC-335. Melaksanakan Shalat Sunah Setelah Shalat Witir
Hidayat Sank Pejuangmasadepan
13 Juli 2015 pukul 21:55
Assalamualaikum. .
Saya mau bertanya , saya pernah mendengar teman saya berkata klo setelah melakukan sholat sunnah witir tidak melakukan sholat sunnah yg lain kecuali sudah tidur terlebih dahulu .
Klo dibulan ramadhan kan setelah melakukan sholat terawih pasti juga melaksanakan sholat witir , jika sebelum tidur saya ingin melakukan sholat istikhoroh terlebih dahulu , bagaimana ?
Bagaimana sebenarnya aturan yang benar dan sesuai sunnah rasululloh ??
Mohon penjelasan para asatidz
=========
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Bolehkan melaksanakan shalat sunah istikharah setelah melaksanakan shalat witir?
Telah bercerita kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah bercerita kepada kami Chafsh, (dan) Abu Mu’awiyah dari al A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Barang siapa khawatir tidak dapat mendirikan shalat malam pada akhir malam (karena tidak bangun), maka hendaknya shalat witir pada awal malam. Dan barang siapa ingin mendirikan shalat malam, maka hendaknya shalat witir pada akhir malam. Karena sesungguhnya shalat pada akhir malam adalah disaksikan (Allah dan Malaikat) dan itu lebih istimewa.”
Dalam mengomentari hadits tersebut, Imam Nawawi menyatakan bahwa hadits tersebut merupakan dalil yang jelas atas keistimewaan mengakhirkan shalat witir hingga akhir (malam) bagi orang yang berasumsi bangun pada akhir malam. Dan bagi orang yang tidak berasumsi bangun pada akhir malam, maka menduhulukan shalat witir adalah lebih istimewa. Ini adalah pendapat yang benar.
Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Muchammad al Azdi, beliau berkata, telah bercerita kepada kami Ishaq bin Ibrahim, beliau berkata, telah bercerita kepada kami Mu’adz bin Hisyam, beliau berkata, telah bercerita kepadaku bapakku dari Yachya bin Abi Katsir, beliau berkata, telah bercerita kepada kami Abu Salmah, sesungguhnya beliau pernah bertanya kepada ‘Aisyah mengenai shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam hari, maka beliau menjawab: “Rasulullah melaksanakan shalat delapan raka’at, kemudian melaksanakan shalat witir, kemudian melaksanakan shalat dua raka’at sambil duduk.”
Imam Nawawi menyatakan bahwa yang benar, sesungguhnya dua raka’at yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam usai melaksanakan shalat witir dalam posisi duduk adalah mengindikasikan kebolehan melaksanakan shalat (sunah) setelah shalat witir dan mengindikasikan kebolehan melaksanakan shalat sunah dengan posisi duduk dan belaiu tidak menjadikan sebagai sebuah kebiasaan, namun beliau melakukannya sesekali atau beberapa kali.
Berdasar uraian tersebut di atas, maka mengerjakan shalat sunah (misal: shalat istikharah) setelah shalat witir atau sebelum tidur adalah diperbolehkan, karena anjuran menjadikan shalat witir sebagai akhir dari pada shalat malam merupakan anjuran yang bersifat terpuji dan disenangi (istihbab), bukan anjuran yang bersifat wajib. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh Al-Ustadz Brojol Gemblung:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا حَفْصٌ، وَأَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ خَافَ أَنْ لَا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ، فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ، وَذَلِكَ أَفْضَلُ». وقَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ: مَحْضُورَةٌ....
~~~~~
فِيهِ دَلِيلٌ صَرِيحٌ عَلَى أَنَّ تَأْخِيرَ الْوِتْرِ إِلَى آخِرِ اللَّيْلِ أَفْضَلُ لِمَنْ وَثِقَ بِالِاسْتِيقَاظِ آخِرَ اللَّيْلِ وَأَنَّ مَنْ لَا يَثِقُ بِذَلِكَ فَالتَّقْدِيمُ لَهُ أَفْضَلُ وَهَذَا هُوَ الصَّوَابُ وَيُحْمَلُ بَاقِي الْأَحَادِيثِ الْمُطْلَقَةِ عَلَى هَذَا التَّفْصِيلِ الصَّحِيحِ الصَّرِيحِ فمن ذلك حديث أوصاني خليلي أن لا أَنَامَ إِلَّا عَلَى وِتْرٍ وَهُوَ مَحْمُولٌ عَلَى مَنْ لَا يَثِقُ بِالِاسْتِيقَاظِ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرَ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ أَنْ يَشْهَدَهَا مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَفِيهِ دَلِيلَانِ صَرِيحَانِ عَلَى تَفْضِيلِ صَلَاةِ الْوِتْرِ وَغَيْرِهَا آخر الليل
شرح النووي على مسلم (6/ 34)
Dasar pengambilan (2) oleh Al-Ustadz Ibnu Malik:
أخبرنا عبد الله بن محمد الأزدي قال : حدثنا إسحاق بن إبراهيم قال : أخبرنا معاذ بن هشام قال : حدثني أبي عن يحيى بن أبي كثير قال : حدثنا أبو سلمة
: أنه سأل عائشة عن صلاة رسول الله صلى الله عليه و سلم بالليل فقالت : كان يصلي ثمان ركعات ثم يوتر ثم يصلي ركعتين وهو جالس ثم يقوم فيقرأ ثم يركع ويصلي ركعتين بين النداء والإقامة من صلاة الصبح
قال شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرطهما
صحيح ابن حبان (6/ 360)
Dasar pengambilan (3) oleh Al-Ustadz Brojol Gemblung:
قُلْتُ الصَّوَابُ أَنَّ هَاتَيْنِ الرَّكْعَتَيْنِ فَعَلَهُمَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الْوِتْرِ جَالِسًا لِبَيَانِ جَوَازِ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْوِتْرِ وَبَيَانِ جَوَازِ النَّفْلِ جَالِسًا وَلَمْ يُوَاظِبْ عَلَى ذَلِكَ بَلْ فَعَلَهُ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ أَوْ مَرَّاتٍ قَلِيلَةٍ
شرح النووي على مسلم (6/ 21)
Daftar Pustaka:
- Syarch al Nawawi ‘Ala Muslim. VI/ 34
- Shahih Ibnu Chibban. VI/ 360
- Syarch al Nawawi ‘Ala Muslim. VI/ 21
=========
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
PERUMUS Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1642321325981421/)

Komentar
Posting Komentar