DOC-336. Minta Ma’af Kepada Sesama Manusia
Arya Kaman Danu
9 Juli 2015 pukul 3:49
assalamu alaikum wr wb
Dalam kesakitan teruji kesabaran Dalam perjuangan teruji keikhlasan Dalam ukhuwah teruji ketulusan Dalam tawakkal teruji keyakinan Hidup ini amat indah jika Allah menjadi tujuan Selamat menyantap makan sahur anda para auliya dan para jamaah ..
dalam momen kali ini saya ingin mengajukan pertanyaan
cukupkah jika orang menyempatkan perminta maafnya dalam momen hari raya semisalnya dia bilang minal aidzin wal faidzin apakah seluruh dosa kesalahannya yang pernah dia mencuri ayamnya atau semisalnya tanpa menyebutkan perbuatannya kepada orang yang di curinya itu akan terhapus dosanya hanya cukup menyebutkan minal aidzin wal faidzin ,,,
mohon bimbingnnya para kiyai disini ...
=========
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Cukupkah seseorang meminta ma’af pada moment ‘Idul Fitri dengan hanya mengucapkan “mohon ma’af lahir dan batin” atau “minal aidin wal faizin” untuk menebus semua dosa yang telah dilakukan?
Syaikh Muchammad Nawawi bin Umar al-Bantani didalam kitab karyanya (Kasyifah Saja Syarh Safinah al Naja) menjelaskan bahwa taubat memiliki tiga rukun, yaitu:
- Menanggalkan diri dari dosa. Maka tidaklah sah taubat semisal pemungut pajak liar kecuali ia meninggalkannya (pemungutan liar).
- Menyesali perbuatannya semata-mata karena Allah. Maka tidaklah sah taubat seseorang yang tidak menyesali perbuatannya atau menyesal namun tidak karena Allah, sebagaimana penyesalan akibat musibah yang menimpa.
- Memprogram diri untuk tidak melakukan hal yang serupa untuk selama-lamanya. Maka tidaklah sah taubat seseorang yang tidak memprogram diri untuk tidak melakukan hal yang sama.
Hal ini jika tidak berkaitan antar sesama manusia. Jika berkaitan dengan sesama manusia, maka terdapat syarat yang keempat, yaitu mengembalikan sesuatu yang diambil dengan lalim atau meminta kebebasan darinya (pemilik) secara rinci, tidak secara global.
Al-Bantani juga mengutip pernyataan Imam al Ghazali yang menyatakan: “Dan hendaknya engkau meminta kerelaan kepada musuhmu sebisa mungkin, baik dengan cara membayar (dan) atau meminta kehalalan (nya). Dan kembalilah engkau kepada Allah dalam hal yang engkau takutkan akan berefek fitnah didalam menjelaskannya dengan memohon kepada Allah agar ia merelakannya dari engkau. Hal senada juga diurai didalam kitab Riyadlu al Shalichin.
Berdasar uraian tersebut di atas, secara eksplisit dan implisit dapat diketahui bahwa permintaan ma’af pada moment ‘Idul Fitri dengan hanya mengucapkan “mohon ma’af lahir dan batin” atau “minal aidin wal faizin” untuk menebus semua dosa yang telah dilakukan adalah tidak mencukupi, karena permintaan ma’af pada moment ‘Idul Fitri bersifat global (tidak dirinci). Namun jika dengan mengurai dan merinci kesalahan yang pernah dilakukan dapat menimbulkan fitnah, maka memohonlah kepada Allah agar ia mema’afkan dan merelakannya. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Brojol Gemblung:
قوله والتوبة، ولها ثلاثة أركان ؛ الأول الإقلاع عن الذنب، فلا يصح توبة المكاس مثلا إلا إذا أقلع عن المكس. والثاني الندم على فعلها لوجه الله تعالى، فلا تصح توبة من لم يندم أو ندم لغير وجه الله تعالى كأن ندم لأجل مصيبة حصلت له. والثالث العزم على أن لا يعود إلى مثلها أبدا، فلا يصح توبة من لم يعزم على عدم العود. وهذا إن لم تتعلق المعصية بالآدمي، فإن تعلقت به فلها شرط رابع وهو رد الظلامة إلى صاحبها أو تحصيل البراءة منه تفصيلا لا إجمالا. إهـ
~~~
فائدة : قال الغزالي ــ إلى أن قال ــ وترضى الخصوم بما أمكنك بأداء واستحلال وترجع إلى الله تعالى فيما تخشى في إظهاره هيجان فتنة بالتضرع إلى الله ليرضيه عنك. إهـ
شرح كاشفة السجا على سفينة النجا ص 15
Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:
قَالَ العلماءُ: التَّوْبَةُ وَاجبَةٌ مِنْ كُلِّ ذَنْب، فإنْ كَانتِ المَعْصِيَةُ بَيْنَ العَبْدِ وبَيْنَ اللهِ تَعَالَى لا تَتَعلَّقُ بحقّ آدَمِيٍّ فَلَهَا ثَلاثَةُ شُرُوط:
أحَدُها: أنْ يُقلِعَ عَنِ المَعصِيَةِ.
والثَّانِي: أَنْ يَنْدَمَ عَلَى فِعْلِهَا.
والثَّالثُ: أنْ يَعْزِمَ أَنْ لا يعُودَ إِلَيْهَا أَبَدًا. فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ الثَّلاثَةِ لَمْ تَصِحَّ تَوبَتُهُ.
وإنْ كَانَتِ المَعْصِيةُ تَتَعَلقُ بآدَمِيٍّ فَشُرُوطُهَا أرْبَعَةٌ: هذِهِ الثَّلاثَةُ، وأنْ يَبْرَأ مِنْ حَقّ صَاحِبِها، فَإِنْ كَانَتْ مالًا أَوْ نَحْوَهُ رَدَّهُ إِلَيْه، وإنْ كَانَت حَدَّ قَذْفٍ ونَحْوَهُ مَكَّنَهُ مِنْهُ أَوْ طَلَبَ عَفْوَهُ، وإنْ كَانْت غِيبَةً استَحَلَّهُ مِنْهَا. ويجِبُ أنْ يَتُوبَ مِنْ جميعِ الذُّنُوبِ، فَإِنْ تَابَ مِنْ بَعْضِها صَحَّتْ تَوْبَتُهُ عِنْدَ أهْلِ الحَقِّ مِنْ ذلِكَ الذَّنْبِ وبَقِيَ عَلَيهِ البَاقي.
وَقَدْ تَظَاهَرَتْ دَلائِلُ الكتَابِ والسُّنَّةِ، وإجْمَاعِ الأُمَّةِ عَلَى وُجوبِ التَّوبةِ.
رياض الصالحين/ الصفحة الرابعة
Daftar Pustaka:
- Kasyifah al Saja Syarach Safinah al Naja. 15
- Riyadlu al Shalichin. 4
=========
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Brojol Gemblung
- Al-Ustadz Wes Qie
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
PERUMUS Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1640974496116104/)

Komentar
Posting Komentar