DOC-338. Hukum Suami Memanggil Istri Dengan Panggilan “Umi” atau "Adik"

Zafi AL Dimass
21 Juli 2015 pukul 20:45

Assalamualaikum Wr wb.
Maaf ustad ustazah saya mau bertanya baru saja aku membaca sebuah artikel
PANGGILAN ABANG, ADIK, UMI, ABI KEPADA PASANGAN (SUAMI/ISTRI) ADALAH ZIHAR.
Benarkah panggilan seperti di atas termasuk zihar......?

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Apakah panggilan “umi” seorang suami kepada istrinya atau panggilan “abang” seorang istri kepada suaminya temasuk kategori dzihar?

     Imam Ahmad bin Mushthafa al-Maraghi di dalam Tafsirnya (Tafsir al Maraghi) menjelaskan bahwa dzihar secara terminology adalah ungkapan penyerupaan seorang suami kepada istrinya atau salah satu anggota tubuhnya dengan wanita yang haram dinikahi, baik karena keturunan (nasab) atau susuan (radla’ah) atau mertua (mushaharah) yang bertujuan pelarangan dan tidak bertujuan penghormatan berdasar firman Allah: "Orang-orang yang mendzihar isterinya diantara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah maha pema'af lagi maha pengampun". (QS. al Mujadalah: 2)
     Di dalam "tafsir Rawai’u al Bayan" diungkapkan bahwa jika seorang suami memanggil istrinya dengan panggilan “wahai saudariku” atau “wahai ibuku” dengan tujuan penghormatan, maka ia tidaklah dikategorikan orang yang melakukan sumpah dzihar, namun panggilan semacam itu adalah makruh berdasar hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abi Tamimah al Hujaimi yang menyatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seorang laki-laki memanggil istrinya dengan panggilan “wahai saudari kecilku”, maka Rasulullah membenci dan melarangnya.

KESIMPULAN:
     Bedasar uraian tersebut di atas, maka hukum seorang suami memanggil istrinya dengan panggilan “Umi” atau “Adik” adalah diperinci sebagai berikut:

  • Jika panggilan tersebut bermaksud pelarangan, maka panggilan semacam itu dikategorikan dzihar.
  • Jika panggilan tersebut bermaksud penghormatan atau sebagai ungkapan kasih sayang antara pasangan suami istri sebagaimana yang berlaku dalam kehidupan keluarga, maka tidak dikategorikan sebagai dzihar. Namun panggilan semacam itu adalah makruh.

CATATAN:
     Ulama’ pakar Fiqh sepakat menyatakan bahwa wanita tidak memiliki hukum dzihar. Jika seorang wanita melakukan sumpah dzihar kepada suaminya dengan menyatakan “Engkau bagiku bagaikan punggung ibuku", maka ia tidak wajib membayar denda karena melakukan sebuah pelanggaran (kafarat) dan tidak ada konsekuensi hukum apapun atas dirinya dan ungkapannya adalah omong kosong.
Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Abdul Malik:

والظهار شرعا: تشبيه المرأة أو عضو منها بامرأة محرمة نسبا أو رضاعا أو مصاهرة بقصد التحريم لا بقصد الكرامة، ولهذا المعنى نزلت الآية، «إِنْ أُمَّهاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ» : أي ما أمهاتهم،
تفسير المراغي (28/ 4)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Brojol Gemblung:

وأمّا من قال لامرأته: يا أختي أو يا أمي على سبيل الكرامة والتوقير فإنه لا يكون مظاهراً، ولكن يكره له ذلك لما رواه أبو داود عن (أبي تميمة الهجيمي) أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم سمع رجلاً يقول لامرأته: يا أُخَيّة، فكرة ذلك ونهى عنه.
~~~
الحكم السادس: هل يقع ظهار المرأة؟
اتفق الفقهاء على أنه ليس للنساء ظهار، فلو ظاهرت امرأة من زوجها بقولها: (أنت عليّ كظهر أمي فلا كفارة عليها ولا يلزمها شيء) وكلامها لغو.
ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺭﻭﺍﺋﻊ ﺍﻟﺒﻴﺎﻥ

(Link Kitab: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1644615315752022/)

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Brojol Gemblung:

فَصْلٌ: وَإِنْ قَالَ: أَنْتِ عَلَيَّ كَأُمِّي. أَوْ: مِثْلُ أُمِّي. وَنَوَى بِهِ الظِّهَارَ، فَهُوَ ظِهَارٌ، فِي قَوْلِ عَامَّةِ الْعُلَمَاءِ؛ مِنْهُمْ أَبُو حَنِيفَةَ، وَصَاحِبَاهُ، وَالشَّافِعِيُّ، وَإِسْحَاقُ. وَإِنْ نَوَى بِهِ الْكَرَامَةَ وَالتَّوْقِيرَ، أَوْ أَنَّهَا مِثْلُهَا فِي الْكِبَرِ، أَوْ الصِّفَةِ، فَلَيْسَ بِظِهَارٍ. وَالْقَوْلُ قَوْلُهُ فِي نِيَّتِهِ. وَإِنْ أَطْلَقَ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: هُوَ صَرِيحٌ فِي الظِّهَارِ. وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ، وَمُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ. وَقَالَ ابْنُ أَبِي مُوسَى: فِيهِ رِوَايَتَانِ، أَظْهَرُهُمَا أَنَّهُ لَيْسَ بِظِهَارٍ حَتَّى يَنْوِيَهُ. وَهَذَا قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ، وَالشَّافِعِيِّ؛ لِأَنَّ هَذَا اللَّفْظَ يُسْتَعْمَلُ فِي الْكَرَامَةِ أَكْثَرَ مِمَّا يُسْتَعْمَلُ فِي التَّحْرِيمِ، فَلَمْ يَنْصَرِفْ إلَيْهِ بِغَيْرِ نِيَّةٍ، كَكِنَايَاتِ الطَّلَاقِ.

المغني لابن قدامة (8/ 7)

Daftar Pustaka:

  1. Tafsir al-Maraghi. XXVII/ 4
  2. Tafsir Rawai’u al Bayan.
  3. Al-Mughni Li Ibni Qadamah. VIII/ 7

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi


PERUMUS
 Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif

 

(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1644615315752022/)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama