DOC-339. Hukum Menolong Orang Yang Sedang Dalam Bahaya

Manusia Biasa
30 Juli 2015 pukul 12:42

Assalamu'alaikum..
Tanya ustadz..
1. Kalau di sekitar kita ada orang sedang terbakar tubuhnya, tersiksa,
akan tenggelam..
Apakah kita wajib menolongnya walaupun orang tersebut tidak meminta tolong kepada kita..?
Terimakasih..

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Apakah wajib menolong seseorang yang sedang dalam bahaya walaupun ia tidak minta tolong?

     Didalam sebuah literatur yang diterbitkan oleh kementrian urusan waqaf dan agama Kuwait (al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah) dijelaskan bahwa diantara pertolongan yang bersifat wajib adalah menolong orang yang sedang dalam bahaya. Dijelaskan bahwa telah terjadi kesepakatan diantara para Ulama’ Fiqh bahwa menolong orang yang sangat membutuhkan terhadap makan dan minum dengan memberikan sesuatu yang dapat menjaga kelangsungan hidupnya adalah wajib. Demikian juga menyelamatkannya dari hal-hal yang dapat mencelakainya, seperti kebakaran dan tenggelam. Jika hanya seseorang yang mampu memberikan pertolongan, maka menjadi sebuah kewajiban yang bersifat individu (‘ain) baginya untuk memberikan pertolongan, dan jika terdapat orang lain yang juga mampu memberikan pertolongan, maka kewajiban tersebut bersifat kolektif (kifayah). Jika salah satu diantara mereka telah memberikan pertolongan, maka gugurlah kewajiban bagi yang lain. Namun jika semua mengabaikan, maka semuanya telah berdosa. Hal ini berdasar kepada sebuah hadist yang telah diceritakan bahwa sesungguhnya telah datang sebuah kaum, lalu mereka meminta agar menimba air untuk mereka, namun mereka diabaikan, kemudian mereka meminta timba (untuk menimba air sendiri), namun lagi-lagi permintaan mereka ditolak dan diabaikan. Maka mereka berkata “Leher kami dan leher hewan yang kami tunggangi telah hampir putus (karena kehausan)”, namun tetap saja mereka diabaikan. Kemudian mereka melaporkan hal itu kepada sayyidina Umar, maka Umar menjawab “Mengapa kalian tidak meletakkan pedang kalian dileher mereka?.” Demikian juga wajib memberikan pertolongan kepada orang buta dari hal-hal yang dapat mencelakainya, juga memberikan pertolongan kepada anak kecil untuk menyelamatkannya dari sengatan kalajengking.
     Bahkan Imam Abu Muhammad; ‘Izuddin; Abdul Aziz bin Abdus Salam bin Abi al Qasim bin al-Hasan al Salami al-Dimasyqa yang dijuluki sebagai pemimpin Ulama’ (sulthanil Ulama’) menambahkan dengan menyatakan bahwa menyelamatkan orang yang berada dibawah perlindungan hukum (bukan kafir charbi) yang tenggelam adalah lebih utama dari pada menunaikan ibadah shalat wajib, dan dimungkinkan untuk mengumpulkan dua hal yang bersifat baik (maslahat) dengan menyelamatkannya lalu mengganti shalat yang telah ditinggalkan. Dan telah maklum bahwa kemaslahatan dengan melaksanakan shalat tepat pada waktunya yang terlewatkan adalah tidak mendekati kemaslahatan dalam penyelamatan nyawa seorang muslim dari kematian. Demikian juga jika orang yang sedang berpuasa di bulan Ramadlan melihat orang yang tenggelam, dan ia tidak mungkin dapat menyelamatkannya kecuali dengan membatalkan puasa, atau melihat orang yang hendak diterkam dan ia tidak mungkin dapat menyelamatkannya kecuali dengan mengumpulkan kekuatan dengan membatalkan puasa, maka ia wajib membatalkan puasa dan menyelamatkannya.
     Imam Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al-Haitami juga menjelaskan bahwa diantara kewajiban yang bersifat kolektif adalah mencegah orang-orang yang berada dalam perlindungan hukum dari hal-hal yang membahayakan, baik sesama muslim, kafir yang mau hidup berdampingan dengan orang muslim (dzimmi).
     Dari ulasan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa hukum menolong orang yang sedang dalam bahaya adalah wajib walaupun ia tidak meminta pertolongan. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Brojol Gemblung:

إِعَانَةُ الْمُضْطَرِّ:
5 - اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى وُجُوبِ إِعَانَةِ الْمُضْطَرِّ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ بِإِعْطَائِهِ مَا يَحْفَظُ عَلَيْهِ حَيَاتَهُ، وَكَذَلِكَ بِإِنْقَاذِهِ مِنْ كُل مَا يُعَرِّضُهُ لِلْهَلاَكِ مِنْ غَرَقٍ أَوْ حَرْقٍ، فَإِنْ كَانَ قَادِرًا عَلَى ذَلِكَ دُونَ غَيْرِهِ وَجَبَتِ الإِْعَانَةُ عَلَيْهِ وُجُوبًا عَيْنِيًّا، وَإِنْ كَانَ ثَمَّ غَيْرُهُ كَانَ ذَلِكَ وَاجِبًا كِفَائِيًّا عَلَى الْقَادِرِينَ، فَإِنْ قَامَ بِهِ أَحَدُهُمْ سَقَطَ عَنِ الْبَاقِينَ، وَإِلاَّ أَثِمُوا جَمِيعًا، لِمَا رُوِيَ أَنَّ قَوْمًا وَرَدُوا مَاءً فَسَأَلُوا أَهْلَهُ أَنْ يَدُلُّوهُمْ عَلَى الْبِئْرِ فَأَبَوْا، فَسَأَلُوهُمْ أَنْ يُعْطُوهُمْ دَلْوًا، فَأَبَوْا أَنْ يُعْطُوهُمْ، فَقَالُوا لَهُمْ: إِنَّ أَعْنَاقَنَا وَأَعْنَاقَ مَطَايَانَا قَدْ كَادَتْ أَنْ تُقَطَّعَ، فَأَبَوْا أَنْ يُعْطُوهُمْ، فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَال لَهُمْ: فَهَلاَّ وَضَعْتُمْ فِيهِمُ السِّلاَحَ (1) .؟ ،
وَمِثْل ذَلِكَ إِعَانَةُ الأَْعْمَى إِذَا تَعَرَّضَ لِهَلاَكٍ، وَإِعَانَةُ الصَّغِيرِ لإِِنْقَاذِهِ مِنْ عَقْرَبٍ وَنَحْوِهِ (2) .
الموسوعة الفقهية الكويتية (5/ 196)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Brojol Gemblung:

الْمِثَالُ الثَّامِنُ: تَقْدِيمُ إنْقَاذِ الْغَرْقَى الْمَعْصُومِينَ عَلَى أَدَاءِ الصَّلَوَاتِ، لِأَنَّ إنْقَاذَ الْغَرْقَى الْمَعْصُومِينَ عِنْدَ اللَّهِ أَفْضَلُ مِنْ أَدَاءِ الصَّلَاةِ، وَالْجَمْعُ بَيْنَ الْمَصْلَحَتَيْنِ مُمْكِنٌ بِأَنْ يُنْقِذَ الْغَرِيقَ ثُمَّ يَقْضِي الصَّلَاةَ، وَمَعْلُومٌ أَنَّ مَا فَاتَهُ مِنْ مَصْلَحَةِ أَدَاءِ الصَّلَاةِ لَا يُقَارِبُ إنْقَاذَ نَفْسٍ مُسْلِمَةٍ مِنْ الْهَلَاكِ.
وَكَذَلِكَ لَوْ رَأَى الصَّائِمُ فِي رَمَضَانَ غَرِيقًا لَا يَتَمَكَّنُ مِنْ إنْقَاذِهِ إلَّا بِالْفِطْرِ، أَوْ رَأَى مَصُولًا عَلَيْهِ لَا يُمْكِنُ تَخْلِيصُهُ إلَّا بِالتَّقَوِّي بِالْفِطْرِ، فَإِنَّهُ يُفْطِرُ وَيُنْقِذُهُ، وَهَذَا أَيْضًا مِنْ بَابِ الْجَمْعِ بَيْنَ الْمَصَالِحِ، لِأَنَّ فِي النُّفُوسِ حَقًّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحَقًّا لِصَاحِبِ النَّفْسِ، فَقُدِّمَ ذَلِكَ عَلَى فَوَاتِ أَدَاءِ الصَّوْمِ دُونَ أَصْلِهِ.
قواعد الأحكام في مصالح الأنام (1/ 66)

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Preman Berr Tasbih:

(وَدَفْعُ ضَرَرِ) الْمَعْصُومِ مِنْ (الْمُسْلِمِينَ) وَأَهْلِ الذِّمَّةِ وَالْأَمَانِ عَلَى الْقَادِرِينَ، وَهُمْ مَنْ عِنْدَهُ زِيَادَةٌ عَلَى كِفَايَةِ سَنَةٍ لَهُمْ وَلِمُمَوَّنِهِمْ
تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي (9/ 220)

Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

أقول : لا شك أن إنقاذ الغريق من أهم الواجبات على كل قادر على إنقاذه فإذا أخذ في إنقاذه فتعلق به حتى خشي على نفسه أن يغرق مثله فليس عليه في هذه الحالة وجوب لا شرعا ولا عقلا فيخلص نفسه منه ويدعه سواء كان قد أشرف على النجاة أم لا بل ظاهر قوله تعالى: {وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ} [البقرة: 195]، أنه يجب عليه تخليص نفسه والآية هذه وإن كانت واردة على سبب خاص كما في سنن أبي داود وغيرهما فالاعتبار بعموم اللفظ لا بخصوص السبب كما تقرر في الأصول وهو الحق فالعجب من حكم المصنف على من أرسله لخشية التلف بالضمان فإن هذا لا يطابق شيئا من الشرع وإنما هو رجوع إلى مجرد رأي قد تقرر في الأذهان التي تقبل هذا وأمثاله من دون أن تزنه بميزان الشرع.
السيل الجرار المتدفق على حدائق الأزهار - (ج 1 ص 892)

Dasar pengambilan (5) oleh al-Ustadz Wes Qie:

فلو راى غريقا يستغيث وفيهم من يحسنون السباحة ويقدرون على انقاده وفيهم من لا يحسنون السباحة ولا يقدر على انقاده فالواجب على من يحسنون السباحة ان لم يبذل بعضهم جهده في انقاذه واذا لم يبادر من تلقاء نفسه الى القيام بالواجب فعلى الاخرين حثه وحمله على اداء واجبه فاذا ادى الواجب فلا اثم على احد واذا لم يؤد الواجب اثموا جميعا. اه

ﻋﻠﻢ ﺍﺻﻮﻝ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﻟﻠﺨﻀﺮﻱ ﺑﻚ ﺝ 1 ﺻــــ 109

Daftar Pustaka:

  1. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah. V/ 196
  2. Qawa’id Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam. I/ 66
  3. Tuhfah Al-Muchtaj. IX/ 220
  4. Al Sailu Al-Jirar. I/ 892
  5. Ilmu Ushul Al-Fiqh Li Al Hudlari. I/ 109

=========

MUSYAWIRIN:

Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi


PERUMUS
 Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif


(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1647360595477494/)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama