DOC-346. Macam-macam Shalat Sunah Dan Mengkombinasikan Niat


 Abdul Malik

10 Juli 2015

Mohon bantuannya untuk dijawab penting dari Kuwait.
Assalamu'alaikum guslik gmn kbr nya?mohon pencerahan nya mengenai macam-macam sholat sunnah itu apa Aja dan hukum nya sunnah yg bagaimana,apa bisa di gabung misalnya sholat sunnah dhuha di gabung dengan sholat sunnah hajat,taubat dll sekaligus?soalnya waktu itu ada ustad di kuwait yg bilang tidak masalah sholat sunnah souroq,dhuha,hajat,taubat,istiqoroh dan hifdu Salamah di kerjakan bersama sama hanya dalam 2 rakaat,mohon petunjuk dan hukum nya Sukron jazila ya guslik

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

1. Apa sajakah macam-macam shalat sunah beserta penjelasan mengenai hukum kesunahannya?
2. Bolehkah menggabung niat antara dua shalat sunah?


     I. Imam Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakar Baafadl al Hadrami didalam kitabnya (al Muqaddimah al Hadramiyah) menyebutkan sebuah pasal yang mengurai tentang shalat sunah, beliau menyatakan bahwa lebih istimewanya shalat sunah adalah:

  • Shalat dua hari raya (‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha).
  • Shalat gerhana matahari (kusuf).
  • Shalat gerhana rembulan (khusuf).
  • Shalat karena mengharap hujan (istisqa’).
  • Shalat witir dengan jumlah raka’at minimal 1 raka’at dan maksimal 11 raka’at yang waktu pelaksanaannya adalah diantara isya’ dan terbit fajar, dan mengahirkannya setelah pelaksanaan shalat malam atau hingga ahir malam jika berasumsi terjaga adalah lebih istimewa, dan diperbolehkan menggabung (shalat witir) dengan satu tasyahud atau dengan dua tasyahud pada dua raka’at terahir, dan ketika seseorang melaksanakan shalat witir dengan 3 raka’at, maka dianjurkan membaca surat “al A’la” pada raka’at pertama, kemudian membaca surat “al Kafirun” pada raka’at yang kedua dan membaca surat “al Mu’auwidzat” pada raka’at yang ketiga.
  • Shalat sunah 2 raka’at sebelum shalat subuh.
  • Shalat sunah 2 raka’at sebelum dan sesudah shalat dhuhur (dan) atau shalat jum’at.
  • Shalat sunah 2 raka’at setelah shalat maghrib dan shalat isya’.
  • Shalat tarawih dengan 20 raka’at bagi selain masyarakat Madinah dengan 1 kali salam dalam setiap 2 raka’at yang waktu pelaksanaannya adalah antara (setelah) shalat isya’ dan terbit fajar.
  • Shalat dluha 2 raka’at hingga 8 raka’at dengan 1 kali salam dalam setiap 2 raka’at yang waktu pelaksanaannya adalah sejak naiknya matahari hingga menjelang dhuhur (waktu istiwa’), dan mengahirkannya hingga seper empat siang adalah lebih istimewa.
  • Shalat sunah 2 raka’at sebelum melaksanakan ihram.
  • Shalat sunah 2 raka’at sebelum thawaf.
  • Shalat sunah tahiyat (masjid) dengan 2 raka’at atau lebih dengan niat shalat tahiyat atau tidak, dan shalat ini dapat dicapai dengan melaksanakan shalat fardlu atau shalat sunah (yang lain), dan kesunahan shalat tahiyat terulang dengan berulangnya masuk kedalam Masjid, sedang kesunahan shalat tahiyat telah berlalu dengan duduk (di Masjid) baik sengaja atau lupa dengan tenggang waktu yang lama, dan disunahkan menambah 2 raka’at sebelum dan sesudah shalat dhuhur dan shalat jum’at.
  • Shalat sunah wudlu’.
  • Shalat sunah 4 raka’at sebelum melaksanakan shalat ashar dan 2 raka’at sebelum shalat maghrib dan shalat isya’.
  • Shalat sunah sebelum berangkat bepergian yang dilaksanakan di Rumah dan sepulang (dari bepergian) yang dilaksanakan didalam Masjid.
  • Shalat sunah istikharah.
  • Shalat sunah hajat.
  • Shalat sunah al awwabin.
  • Shalat sunah tasbih.
Al Hadrami juga menjelaskan bahwa seseorang yang melewatkan shalat sunah yang memiliki waktu, maka diperbolehkan mengganti (qadla’)nya, namun tidak diperbolehkan mengganti (qadla’) shalat yang memiliki sebab. Al Hadrami juga menjelaskan bahwa tidak ada batasan bagi shalat sunah mutlak.

     II. Didalam sebuah literatur Fiqh (al Fatawa) dijelaskan:
Soal: Apakah diperbolehkan mengkombinasikan niat dalam pelaksanaan shalat sunah seperti niat seseorang: “Aku berniat melaksanakan shalat sunah isya’ beserta shalat sunah hajat dan shalat malam dengan hanya dua raka’at”?
Jawab: Tidak sah mengkombinasikan dua shalat yang dimaksud dengan satu niat, seperti shalat sunah isya’ dan shalat malam, karena tiap-tiap dua shalat tersebut merupakan shalat yang bertujuan terhadap dzat shalat itu sendiri. Ada beberapa hal yang mengindikasikan bahwa shalat malam yang dimaksud bertujuan terhadap dzat shalat itu sendiri, yaitu:
a) Shalat tersebut tidak dapat dihasilkan dengan melaksanakan shalat maghrib dan isya’ atau shalat yang lain seperti shalat sunah rawatib dan shalat witir, dan jika shalat (malam) tersebut bukan merupakan shalat yang bertujuan terhadap dzat shalat itu sendiri, maka dapat dihasilkan dengan melaksanakan shalat yang lain.
b) Sesungguhnya para Ulama’ menyebutkan setidaknya terdapat 16 shalat yang bertujuan terhadap dzat shalat itu sendiri, namun tidak menyebutkan shalat malam termasuk diantaranya.
c) Shalat tersebut dapat diganti (qadla’) bagi orang yang membiasakan diri dengan sejumlah raka’at diantaranya.
     Berdasar pemaparan tersebut, maka tidak sepatutnya melaksanakan shalat sunah isya’ dan shalat malam dengan satu niat, berbeda dengan shalat hajat, karena shalat hajat bukan merupakan shalat yang bertujuan terhadap dzat shalat itu sendiri, maka sah melaksanakannya dengan melaksanakan shalat sunah isya’ dengan satu niat, sebagaimana yang telah dipastikan oleh sekelompok cendekiawan, diantaranya imam al Syarwani. Semoga Allah mengasihinya.
    Di dalam literatur yang diterbitkan oleh kementrian urusan waqaf dan agama Kuwait (Al-Mausu’ah al Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah) juga dijelaskan tentang mengkombinasikan dua ritual ibadah dengan satu niat, jika keduanya merupakan dua ibadah yang saling berkaitan seperti mandi hari jum’at dan mandi jinabah, atau mandi jinabah dan mandi haidl, atau mandi hari jum’at dan mandi hari raya, atau salah satu ritual ibadah tersebut bukan merupakan ibadah yang bertujuan (terhadap dzat ibadah itu sendiri) seperti shalat tahiyatul Masjid beserta shalat fardlu atau shalat sunah yang lain, maka hal itu tidaklah mencemari sebuah ritual ibadah, karena rangkaian bersuci adalah saling berkaitan, dan shalat tahiyatul Masjid dan semisalnya bukan merupakan shalat yang bertujuan terhadap dzat shalat itu sendiri, melainkan bertujuan untuk sebuah kesibukan dalam sebuah tempat dengan melaksanakan shalat, maka tujuan tersebut telah tercapai dengan melaksanakan shalat yang lain. Sedang dua ritual ibadah yang bertujuan terhadap dzat ibadah itu sendiri sebagaimana shalat dhuhur dan shalat sunah rawatibnya, maka tidak sah mengkombinasikan keduanya, karena keduanya merupakan ibadah yang tersendiri yang tidak dapat tercapai dengan hanya melaksanakan salah satu dari keduanya.
    Berdasar pemaparan tersebut diatas, maka hukum mengkombinasikan dua shalat dalam satu niat adalah diperinci sebagai berikut:

  • Jika kedua shalat atau salah satu dari keduanya bukan merupakan shalat yang bertujuan terhadap dzat shalat itu sendiri, maka diperbolehkan mengkombinasikan keduanya dalam satu niat, sebagimana shalat tahiyatul Masjid yang dikombinasikan dalam niat shalat fardlu atau shalat sunah yang lain, demikian juga shalat hajat yang dikombinasikan dalam shalat sunah yang lain.
  • Jika kedua shalat tersebut merupakan shalat yang bertujuan terhadap dzat shalat itu sendiri, maka tidak sah dan tidak diperbolehkan mengkombinasikan keduanya dalam satu niat. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi:

فصل فِي صَلَاة النَّفْل
أفضل الصَّلَاة المسنونة صَلَاة الْعِيدَيْنِ ثمَّ الْكُسُوف ثمَّ الخسوف ثمَّ الاسْتِسْقَاء ثمَّ الْوتر وَأقله رَكْعَة وَأَكْثَره إِحْدَى عشرَة بالأوتار وَوَقته بَين الْعشَاء وطلوع الْفجْر وتأخيره بعد صَلَاة اللَّيْل أَو إِلَى آخر اللَّيْل إِذا كَانَ يَسْتَيْقِظ أفضل وَيجوز وَصله بتشهد أَو بتشهدين فِي الْأَخِيرَتَيْنِ وَإِذا أوتر بِثَلَاث يقْرَأ فِي الأولى سُورَة الْأَعْلَى وَفِي الثَّانِيَة الْكَافِرُونَ وَفِي الثَّالِثَة المعوذات ثمَّ يَتْلُو الْوتر فِي الْفَضِيلَة رَكعَتَا الْفجْر ثمَّ رَكْعَتَانِ قبل الظّهْر أَو الْجُمُعَة وركعتان بعدهمَا وركعتان بعد الْمغرب وَبعد الْعشَاء ثمَّ التَّرَاوِيح وَهِي لغير أهل الْمَدِينَة عشرُون رَكْعَة يسلم من كل رَكْعَتَيْنِ بَين الْعشَاء وَالْفَجْر ثمَّ الضُّحَى رَكْعَتَانِ إِلَى ثَمَان وَيسلم من كل رَكْعَتَيْنِ ووقتها بعد ارْتِفَاع الشَّمْس إِلَى الاسْتوَاء وتأخيرها إِلَى ربع النَّهَار أفضل ثمَّ رَكعَتَا الْإِحْرَام وركعتا الطّواف وركعتا التَّحِيَّة ثمَّ سنة الْوضُوء وَتحصل التَّحِيَّة بِفَرْض أَو نفل هُوَ رَكْعَتَانِ أَو أَكثر نَوَاهَا أَو لَا وتتكرر بِتَكَرُّر الدُّخُول وتفوت بِالْجُلُوسِ عَامِدًا أَو نَاسِيا وَطَالَ الْفَصْل وَيسْتَحب زِيَادَة رَكْعَتَيْنِ قبل الظّهْر وَقبل الْجُمُعَة وَبعده وَبعدهَا وَأَرْبع قبل الْعَصْر وَرَكْعَتَيْنِ قبل الْمغرب وَقبل الْعشَاء وَعند السّفر فِي بَيته وَعند الْقدوم فِي الْمَسْجِد وَصَلَاة الاستخارة وَالْحَاجة والأوابين وَصَلَاة التَّسْبِيح وَمن فَاتَتْهُ صَلَاة مُؤَقَّتَة قَضَاهَا وَلَا يقْضى مَا لَهُ سَبَب وَلَا حصر للنفل الْمُطلق
المقدمة الحضرمية (ص: 86)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi:

السؤال

هل يجوز جمع النية في صلاة السنة كأن أصلي سنة العشاء مع قضاء الحاجة وقيام الليل في ركعتين فقط؟

الإجابــة
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد: فلا يصح الجمع في صلاتين مقصودتين بنية واحدة كسنة العشاء وقيام الليل؛ لأن كلتيهما صلاة مقصودة لذاتها، ويدل على أن صلاة الليل مقصودة لذاتها أمور: أولها: أنها لا تحصل بصلاة المغرب والعشاء ولا غيرهما من الصلوات المقصودة كالرواتب والوتر ولو كانت غير مقصودة لحصلت بذلك. الثاني: أن العلماء ذكروا نحو ستة عشر صلاة غير مقصودة، ولم يذكروا منها صلاة الليل. الثالث: أنها تقضى لمن اعتاد عدداً منها. وعليه فلا يصلح أن يؤتى بسنة العشاء وقيام الليل بنية واحدة، بخلاف صلاة الحاجة فليست مقصودة لذاتها فيصح أن تؤدى مع سنة العشاء بنية واحدة كما نص على ذلك جماعة من أهل العلم، ومنهم الشرواني رحمه الله. والله أعلم.

الفتاوى
(Link Kitab: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=93075)

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi:

تَشْرِيكُ عِبَادَتَيْنِ فِي نِيَّةٍ:
5 - إِنْ أَشْرَكَ عِبَادَتَيْنِ فِي النِّيَّةِ، فَإِِنْ كَانَ مَبْنَاهُمَا عَلَى التَّدَاخُل كَغُسْلَيِ الْجُمُعَةِ وَالْجَنَابَةِ، أَوِ الْجَنَابَةِ وَالْحَيْضِ، أَوْ غُسْل الْجُمُعَةِ وَالْعِيدِ، أَوْ كَانَتْ إِحْدَاهُمَا غَيْرَ مَقْصُودَةٍ كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ مَعَ فَرْضٍ أَوْ سُنَّةٍ أُخْرَى، فَلاَ يَقْدَحُ ذَلِكَ فِي الْعِبَادَةِ؛ لأَِنَّ مَبْنَى الطَّهَارَةِ عَلَى التَّدَاخُل، وَالتَّحِيَّةُ وَأَمْثَالُهَا غَيْرُ مَقْصُودَةٍ بِذَاتِهَا، بَل الْمَقْصُودُ شَغْل الْمَكَانِ بِالصَّلاَةِ، فَيَنْدَرِجُ فِي غَيْرِهِ.
أَمَّا التَّشْرِيكُ بَيْنَ عِبَادَتَيْنِ مَقْصُودَتَيْنِ بِذَاتِهَا كَالظُّهْرِ وَرَاتِبَتِهِ، فَلاَ يَصِحُّ تَشْرِيكُهُمَا فِي نِيَّةٍ وَاحِدَةٍ؛ لأَِنَّهُمَا عِبَادَتَانِ مُسْتَقِلَّتَانِ لاَ تَنْدَرِجُ إِحْدَاهُمَا فِي الأُْخْرَى. (1)
وَانْظُرْ أَيْضًا مُصْطَلَحَ: (نِيَّةٌ) .
الموسوعة الفقهية الكويتية (12/ 24)

Referensi:

  1. Al-Muqaddimah Al-Hadramiyah. 86
  2. Al-Fatawa.
  3. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah. XII/ 24

=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

  1. Al-Ustadz Brojol Gemblung
  2. Al-Ustadz Wes Qie
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi

PERUMUS
 Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama