DOC-349. Tentang Tawadlu’ Dan Wara’

Manusia Biasa
11 Agustus 2015 pukul 14:09

Assalamu'alaikum..
Tanya..
Ustadz..
1. Apa yg dimaksud/pengertian dari tawadhu..?
dan Apakah kita wajib tawadhu..?
2. Apa maksud/pengertian dari sifat wara ?
Dan apa kita wajib memiliki sifat wara..?
Terimakasih banyak.


=========


JAWABAN:


Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.


الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ


1. Apakah yang dimaksud dengan tawadlu’ dan wajibkah kita bersifat tawadlu’?
2. Apakah yang dimaksud dengan wara’ dan wajibkah kita bersifat wara’?


      I. Di dalam sebuah literatur dijelaskan bahwa “tawadlu’” secara etimologi berarti merendahkan diri. Diucapkan “Seseorang merendahkan dirinya dengan merendahkan yang sesungguhnya, dan seseorang dikatakan “tawadlu’” ketika ia telah merendahkan dirinya.” Sebagian pendapat menyatakan bahwa “tawadlu’” adalah merendahkan diri dan bersikap tunduk (husyu’). Sedang secara terminologi, “tawadlu’” adalah meninggalkan posisi luhur (ketokohan), menampakkan kelemahan (lebih memilih tidak populer), tidak suka diagungkan, mendominasi diri dalam hal kemuliaan, menjauhkan diri dari sikap berbangga diri dengan amal dan perbuatan yang telah dilakukan, kedudukan dan harta yang dimiliki serta membentengi diri dari sifat pengaguman (‘ujub) dan sombong. Sebagian pendapat menyatakan bahwa “tawadlu’” adalah kerelaan seseorang dengan kedudukan (yang ada) dibawah kadar sesuatu yang berhak ia peroleh, baik keistimewaan maupun kedudukannya. “Tawadlu’” merupakan pertengahan diantara sombong dan kehinaan (al dli’ah). “Al dli’ah” adalah memposisikan diri pada posisi yang rendah dan hina dengan menyia-nyiakan haknya. Sedang sombong adalah memposisikan diri diatas kadarnya. Sebagian pendapat juga menyatakan bahwa “tawadlu’” adalah pelepasan diri dari sebuah kedudukan bagi orang yang dikehendaki pengagungannya. Sebagian pendapat yang lain menyatakan bahwa “tawadlu’” adalah penghormatan kepada orang yang diatasnya, baik kedudukan, usia dan lain sebagainya.

      Imam Junaidi juga pernah ditanya tentang “tawadlu’”, maka beliau menjawab, “tawadlu’” adalah sikap merendahkan diri dan santun (terhadap orang lain). Sedang imam Rawim menuturkan bahwa “tawadlu’” adalah merendahkan hati terhadap yang maha mengetahui hal-hal yang tidak tampak (ghaib). Imam Sahl menyatakan bahwa klimaks dzikir adalah melihat Allah, sedang klimaks tawadlu’ adalah kerelaan terhadap Allah. Imam yang lain menyatakan bahwa “tawadlu’” adalah sikap tunduk dan patuh terhadap otoritas kebenaran, dari dan untuk kebenaran.

      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Tidak akan berkurang harta karena disedekahkan, dan Allah tidak akan menambah bagi seorang pemaaf melainkan kemuliaan dan tidaklah seseorang merendahkan dirinya karena Allah, melainkan Allah mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim dari Abi Harairah)

      Imam Muhammad bin Abdul Baaqi bin Yusuf al Zarqani mengomentari hadits tersebut dengan mengutip penyataan imam al Qurthubi yang menyatakan bahwa “tawadlu’” adalah sikap merendahkan diri yang merupakan kontradiksi sikap sombong. Merendahkan diri (tawadlu’) kepada Allah, Rasulullah, hakim dan kepada orang-orang yang berilmu (‘alim) adalah wajib, karena dengan sikap “tawadlu’” Allah akan mengangkat derajat seseorang didunia dan akhirat. Sedang bersikap “tawadlu’” kepada sesama manusia (selain tersebut diatas), jika semata-mata karena Allah, maka Allah akan mengangkat dan menjadikannya berada didalam hati orang lain dan akan selalu dikenang dengan sebaik-baik kenangan dan Allah juga akan mengangkat derajatnya di akhirat. Namun jika hal itu (tawadlu’) dilakukan karena sebuah tendensi yang bersifat duniawi, maka tidak ada kemuliaan apapun yang dapat diraih.

      II. Wara’ secara etimologi adalah takut, upaya untuk keluar dan mencegah diri dari hal-hal yang dilarang (haram). Sedang secara terminologi, wara’ adalah suatu sikap untuk menjauhi ketidak jelasan (sesuatu), karena khawatir terjerembab kedalam hal-hal yang diharamkan. Imam al Qarafi mendefinisikan Wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang tidak membahayakan sebagai upaya untuk mengantisipasi bahaya yang dapat diakibatkan. Sedang imam al Kafawi menuturkan bahwa wara’ adalah menjahui hal-hal yang tidak jelas halal dan haramnya (syubhat).

     Dari Mu’man bin Basyir radliyallahu ‘anhuma, beliau berkata, aku pernah mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dan Nu’man memasukkan jarinya kedalam kedua telinganya “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram pun jelas dan diantara keduanya ada hal-hal yang samar yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia (syubhat). Barang siapa menjauhinya, maka ia telah melakukan sebuah pembebasan terhadap agama dan kehormatannya, dan barang siapa memasuki syubhat, ia telah memasuki keharaman seperti halnya penggembala yang menggembala disekitar batas (tanahnya), tidak lama ia akan jatuh ke dalamnya. Ingatlah, bahwa setiap kepemilikan ada batasnya, dan ingatlah, bahwa batas Allah ialah larangan-larangan-Nya. Ketahuilah bahwa didalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik, seluruh tubuh akan baik, jika ia rusak, seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah dialah hati.” (Muttafaq Alaihi)

      Dalam mengomentari hadits Nabi yang menyatakan “Barang siapa menjauhinya (syubhat), maka ia telah melakukan sebuah pembebasan terhadap agama dan kehormatannya”, Imam Muhammad bin Isma’il al Amir al Kahlani al Shan’ani menyatakan bahwa orang yang menjahui dan meninggalkan syubhat, maka ia telah membersihkan diri dari kecaman syari’at dan menjaga diri dari celaan orang lain.

      Mengacu kepada uraian tersebut, maka Wara’ menjadi syarat utama yang wajib dilaksanakan dalam proses pencapaian untuk menjadi manusia yang selamat dari kecaman Allah dan Rasulullah serta selamat celaan orang lain bagi siapapun yang ingin mencapainya. Wallahu a’lam bis shawab.


Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:


معنى التَّواضُع لغةً:
التواضع التذلل، يُقَال: وضَعَ فُلانٌ نَفْسَهُ وضْعًا، ووُضُوعًا بالضَّم، وَضَعَةً، بالفَتْحِ: أي أذلَّها. وتَوَاضَعَ الرَّجُلُ: إذا تَذَلَّلَ، وقيل: ذَلَّ وتَخاشَعَ (1) .
معنى التَّواضُع اصطلاحًا:
التَّواضُع هو: (ترك التَّرؤس، وإظهار الخمول، وكراهية التَّعظيم، والزِّيادة في الإكرام، وأن يتجنَّب الإنسان المباهاة بما فيه مِن الفضائل، والمفاخرة بالجاه والمال، وأن يتحرَّز مِن الإعجاب والكِبْر) (2) .
وقيل هو: (رضا الإنسان بمنزلة دون ما يستحقُّه فضله ومنزلته. وهو وسطٌ بين الكِبْر والضِّعَة، فالضِّعَة: وضع الإنسان نفسه مكانًا يزري به بتضييع حقِّه. والكِبْر: رفع نفسه فوق قدره) (3) .
وقيل هو: (إظهار التَّنزُّل عن المرتبة لمن يراد تعظيمه، وقيل: هو تعظيم مَن فوقه فضله)

ﺍﻟﺪﺭﺭ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ - ﻣﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻷﺧﻼﻕ


(Link Kitab: http://www.dorar.net/enc/akhlaq/318)


Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Aqil Fauzan:


قَوْلهم فى التَّوَاضُع
سُئِلَ الْجُنَيْد عَن التَّوَاضُع فَقَالَ هُوَ خفض الْجنَاح وَكسر الْجَانِب قَالَ رُوَيْم التَّوَاضُع تذلل الْقُلُوب لعلام الغيوب
قَالَ سهل كَمَال ذكر الله الْمُشَاهدَة وَكَمَال التَّوَاضُع الرِّضَا بِهِ
وَقَالَ غَيره التَّوَاضُع قبُول الْحق من الْحق للحق
وَقَالَ آخر التَّوَاضُع الافتخار بالقلة والاعتناق للذلة وَتحمل أثقال أهل المله
التعرف لمذهب أهل التصوف - (ج 1 / ص 97)


Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:


وقال القرطبي التواضع انكسار والتذلل ضد التكبر فالتواضع إن كان لله أو لرسوله أو للحاكم أو للعالم فهذا واجب يرفع الله به في الدارين وأما لسائر الخلق فإن قصد به وجه الله فإن الله يرفع قدر صاحبه في القلوب ويطيب ذكره في الأفواه ويرفع قدره في الآخرة وإن فعل ذلك لأجل الدنيا فلا عز معه
شرح الزرقاني (4/ 549)


Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

معنى الورع لغةً:
الورع: التَّـقْوَى، والتَّحَرُّج، والكَفُّ عن المحارِم. من وَرِعَ الرَّجُلُ، كوَرِثَ، والورِع، بكسر الرَّاءِ: الرجلُ التَّقِي المتَحَرِّج، والورَعُ في الأصل: الكَفُّ عن المحارِم والتحَرُّج منه، ثم اسْتعِير للكفِّ عن المباح والحلالِ (1) .
معنى الورع اصطلاحًا:
الورع: هو اجتناب الشبهات؛ خوفًا من الوقوع في المحرمات (2) .
وعرفه القرافي بقوله: (ترك ما لا بأس به؛ حذرًا مما به البأس) (3) .
وقال الكفوي: (الورع: الاجتناب عن الشبهات سواء كان تحصيلًا أو غير تحصيل)
ﺍﻟﺪﺭﺭ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ - ﻣﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻷﺧﻼﻕ


(Link Kitab: http://www.dorar.net/enc/akhlaq/1549)


Dasar pengambilan (5) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:


عن النعمان بن بشير رضي الله عنهما قال سمعت رسول الله صلى الله عليه سلم يقول: وأهوى النعمان بأصبعيه إلى أذنيه "إن الحلال بين وإن الحرام بين وبينهما مشتبهات" ويروى " مشبهات " بضم الميم وتشديد الموحدة ومشبهات بضمها أيضا وتخفيف الموحدة "لا يعلمهن كثير من الناس فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ" بالهمزة من البراءة أي حصل له البراءة من الذم الشرعي وصان عرضه من ذم الناس "لدينه وعرضه ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام" أي يوشك أن يقع فيه وإنما حذفه لدلالة ما بعده عليه إذ لو كان الوقوع في الشبهات وقوعا في الحرام لكانت من قسم الحرام البين وقد جعلها قسما برأسه وكما يدل له التشبيه بقوله "كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يقع فيه ألا وإن لكل ملك حمى ألا وإن حمى الله محارمه ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب" متفق عليه
سبل السلام (4/ 171)


Referensi:

  1. Al-Durarus Saniah.
  2. Al-Ta’rif Li Madzhab Ahli  Al-Tashawuf. I/ 97
  3. Syarah Al-Zarqani. IV/ 549
  4. Al-Durarus Saniah.
  5. Subulus Salam. IV/ 171

=========


MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

  1. Al-Ustadz Tamam Reyadi
  2. Al-Ustadz Wesqie Zidanil Ardan
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi


PERUMUS
 Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif


(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1650843158462571/)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama