DOC-352. Hukum Memelihara Jenggot Dan Hukum Mencukur Jenggot

Ibad Abdurohman
6 Juli 2015
Aslmkum.wr.wb. Mf kpd dwan asatidz MTTM, sya mw brtanya tntang jenggot.
1. Bgmn hukum memelhara jenggot dlm madzhb syafi'i?
2. Apa hukum mcukur jenggot?
#mhon d jwb scepat ny, cz sya lg btuh referensi tntang itu.
Sblm ny sya ucapkan trmksh.

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

1. Bagaimanakah hukum memelihara jenggot dalam madzhab Syafi’i?
2. Bagaimana hukum mencukur jenggot?


    Prof. Dr. Wahbah al Zuhaili didalam kitab karyanya (al Fiqhul Islam Wa Adillatuhu) menjelaskan bahwa membiarkan jenggot (hingga menjadi panjang) tidak diragukan lagi bahwa hal itu adalah sunah yang dianjurkan berdasar hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam yang menyatakan “Tampillah berbeda dengan orang-orang musyrik, cukurlah kumis dan biarkanlah jenggot kalian.” “Cukurlah kumis kalian dan biarkanlah jenggot kalian, niscaya kalian akan tampil beda dengan orang-orang Majusi.” ‘Aisyah juga meriwayatkan bahwa “Ada 10 hal yang termasuk dalam kotegori fitrah, yaitu: mencukur kumis, membiarkan jenggot, bersiwak dan seterusnya…..” Dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau memerintahkan untuk menyamarkan kumis dan membiarkan jenggot. Al Zuhaili menjelaskan bahwa arti dari “menyamarkan kumis” adalah memotong kumis yang memanjang dari kedua bibir sehingga tampak warna putih dari keduanya (bibir), sedang arti dari “membiarkan jenggot” adalah menyempurnakannya (tidak mengurangi dengan memotong), hal ini berbeda dengan kondisi orang-orang Persia yang memangkas jenggot mereka, maka syara’ melarang dari hal yang demikian. Ulama’ dari kalangan madzhab Maliki dan Hambali mengharamkan mencukur jenggot. Sedang Ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi mempertimbangkan dan menyatakan bahwa mencukur jenggot adalah makruh tahrim, sedang yang disunahkan (menurut mereka) adalah segenggam tangan, maka mengambil sedikit (kurang dari ukuran tersebut) atau menghilangkannya sama sekali adalah tidak diperbolehkan. Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i menyatakan makruh mencukur jenggot. Al Zuhaili juga mengutip pernyataan imam Nawawi yang menyatakan bahwa “Sesungguhnya para Ulama’ menyebutkan 10 hal yang dianggap makruh dalam masalah jenggot, bahkan sebagian diantaranya lebih (makruh) dari yang lain, diantaranya adalah mencukur jenggot kecuali bagi perempuan yang tumbuh jenggot, maka disunahkan (baginya) mencukurnya.
    Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi didalam kitabnya (al Majmu’ Syarh al Muhaddzab) menyatakan bahwa yang benar adalah makruh mengambil (mencukur) jenggot, tapi biarkanlah bagaimanapun kondisi dan keadaanya berdasar hadits shahih yang menyatakan “Biarkanlah jenggot kalian”. Sedang hadits Ibnu Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya yang menyatakan bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencukur jenggot baik dari sisi melebar atau memanjangnya, yang juga diriwayatkan oleh al Tirmidzi dengan sanad yang lemah adalah tidak dapat dijadikan dalil.
    Berdasar pemaparan tersebut diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan guna menanggapi pertanyaan yang telah disampaikan oleh penanya tersebut diatas sebagai berikut:
I. Hukum memelihara jenggot adalah sunah.
II. Hukum mencukur jenggot adalah hilaf sebagaimana paparan tersebut diatas.


Catatan:
• Mencukur (al halqu) adalah membesihkan rambut atau dengan redaksi lain mencukur habis rambut dengan alat cukur seperti pisau cukur dan sejenisnya atau menggunakan obat penghilang rambut dan lain-lain.
• Memotong (al taqshir) adalah merapikan rambut dengan cara memangkas sesuai ukuran yang dikehendaki. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz D-Rozaq:

وأما إعفاء اللحية: فلا شك بأنه سنة مطلوبه لقوله صلّى الله عليه وسلم: «خالفوا المشركين، أحْفُوا الشوارب، وأوفوا اللِّحى»، «جُزُّوا الشوارب وأرْخُوا اللحى، خالفوا المجوس» وروت عائشة: «عشر من الفطرة: قص الشارب، وإعفاء اللحية، والسواك ... » الحديث، وعن ابن عمر عن النبي صلّى الله عليه وسلم: «أنه أمر بإحفاء الشوارب، وإعفاء اللحية» (2).
ومعنى إحفاء الشوارب: قص ما طال على الشفتين، حتى يبين بياضهما.
ومعنى إعفاء اللحية: توفيرها، خلافاً لما كان من عادة الفرس من قص اللحية، فنهى الشرع عن ذلك.
وقد حرم المالكية والحنابلة حلقها، واعتبر الحنفية حلقها مكروهاً تحريمياً، والمسنون في اللحية هو القبضة، وأما الأخذ منها دون ذلك أو أخذها كلها فلا يجوز (3). وقال الشافعية بكراهية حلقها، فقد ذكر النووي أن العلماء ذكروا عشر خصال مكروهة في اللحية، بعضها أشد من بعض، منها حلقها إلا إذا نبت للمرأة لحية، فيستحب لها حلقها
الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي (4/ 2659)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

وَالصَّحِيحُ كَرَاهَةُ الْأَخْذِ مِنْهَا مُطْلَقًا بَلْ يَتْرُكُهَا عَلَى حَالِهَا كَيْفَ كَانَتْ لِلْحَدِيثِ الصَّحِيحِ وَاعْفُوا اللحي واما الحديث عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ مِنْ لِحْيَتِهِ مِنْ عَرْضِهَا وَطُولِهَا فَرَوَاهُ الترمذي باسناد ضعيف لا يحتج به أما الْمَرْأَةُ إذَا نَبَتَتْ لَهَا لِحْيَةٌ فَيُسْتَحَبُّ حَلْقُهَا صَرَّحَ بِهِ الْقَاضِي حُسَيْنٌ وَغَيْرُهُ وَكَذَا الشَّارِبُ وَالْعَنْفَقَةُ لَهَا هَذَا مَذْهَبُنَا
المجموع شرح المهذب (1/ 290)

Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Zafi AL Dimass:

(قَوْلُهُ أَوْ يَحْرُمُ كَانَ خِلَافَ الْمُعْتَمَدِ إلَخْ) قَالَ فِي شَرْحُ الْعُبَابِ.
(فَائِدَةٌ)
قَالَ الشَّيْخَانِ يُكْرَهُ حَلْقُ اللِّحْيَةِ وَاعْتَرَضَهُ ابْنُ الرِّفْعَةُ فِي حَاشِيَةِ الْكَافِيَةِ بِأَنَّ الشَّافِعِيَّ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ - نَصَّ فِي الْأُمِّ عَلَى التَّحْرِيمِ قَالَ الزَّرْكَشِيُّ وَكَذَا الْحَلِيمِيُّ فِي شُعَبِ الْإِيمَانِ وَأُسْتَاذُهُ الْقَفَّالُ الشَّاشِيُّ فِي مَحَاسِنِ الشَّرِيعَةِ وَقَالَ الْأَذْرَعِيُّ الصَّوَابُ تَحْرِيمُ حَلْقِهَا جُمْلَةً لِغَيْرِ عِلَّةٍ بِهَا كَمَا يَفْعَلُهُ الْقَلَنْدَرِيَّةُ انْتَهَى اهـ سم
تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي (9/ 376)

Referensi:

  1. Al-Fiqhul Islam Wa Adillatuh. IV/ 2659
  2. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab. I/ 290
  3. Tuhfah Al-Muhtaj. IX/ 376

=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

  1. Al-Ustadz Tamam Reyadi
  2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi


PERUMUS Dan EDITOR:

I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif


(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1640449876168566/)
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama