DOC-359. Wudlu’ Pasangan Suami Istri Yang Berjabat Tangan Dan Hal-hal Yang Membatalkan Wudlu’
Nur Aini
28 Agustus 2015 pukul 19:31
Asslmu alikum q hadir lg,,, untuk para ustdz dan santri watiya,,, q mau tanya ?? Gimana seorang istri yg udah ambil wudu llu berjabat tgn atau bersentuhan kulit dengan suaminya batal apa gak wudunya ,,, makasih sebelumnya,
=========
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Batalkah wudlu’ istri yang berjabat tangan atau bersentuhan kulit dengan suaminya?
DR. Musthafa al Khin dan DR. Musthafa al Bugha didalam kitab karyanya (al Fiqh al Manhaji ‘Ala Madzhab al Imam al Syafi’i) menjelaskan tentang hal-hal yang membatalkan wudlu’. Mereka menuturkan bahwa wudlu’ dapat rusak (batal) sebab 5 hal:
- Setiap sesuatu yang keluar dari salah satu dua jalan (qubul dan dubur), baik tinja, atau air seni, atau darah, ataupun angin (kentut). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun." (QS: al Nisa’: 43). Imam al Bukhari dan imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Allah tidak akan menerima shalat salah satu (dari) kalian ketika berhadats sehingga berwudlu’.” Maka seorang laki-laki dari Hadramut bertanya “Apa yang dimaksud dengan hadats wahai Abu Hurairah?”, beliau menjawab: “Kentut yang tidak bersuara atau kentut yang bersuara.” Al Khin dan al Bugha menambahkan: “Dan dianalogikan kepada hal-hal tersebut diatas, setiap sesuatu walaupun suci yang keluar dari jalan depan (qubul) dan jalan belakang (dubur).”
- Tidur yang tidak menetapkan pantatnya pada bumi (al mutamakkin). Al mutamakkin adalah orang yang (tidur dengan posisi) duduk dan pantat melekat pada bumi, sedang ghairul mutamakkin terdapat benggang antara pantat dan bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang tidur, maka berwudlu’lah” (HR. Abu Dawud dan yang lain). Adapun orang yang tidur dengan posisi menetapkan pantatnya pada bumi (al mutamakkin), maka wudlu’nya tidak rusak (batal), hal ini berdasar sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari Anas radliyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Pada saat shalat akan didirikan, Rasulullah berbisik dengan seorang laki-laki, dan terus berlangsung hingga shabatnya tertidur, maka ia datang dan melaksanakan shalat bersama mereka.” Juga dari Anas, beliau berkata “Sahabat-sahabat Rasulullah tertidur, kemudian melaksanakan shalat dan tidak berwudlu’.” Dan jelas mereka (sahabat-sahabat Nabi) tidur dengan posisi duduk yang menetapkan pantatnya pada bumi (al mutamakkin), kerena mereka berada didalam Masjid dan sedang menunggu pelaksanaan shalat.
- Hilang akal sebab mabuk, epilepsi (ayan), sakit, atau gila. Karena sesungguhnya ketika manusia tersadar dari hal tersebut, maka diprediksi telah keluar sesuatu tanpa dirasa dan disadari, dan hal ini juga dianalogikan pada tidur, sedang ini (hilang akal) bersifat lebih dari sekedar tidur.
- Menyentuhnya laki-laki terhadap istrinya atau wanita lain (ajnabiyah) tanpa penghalang. Maka hal itu merusak (membatalkan) wudlu’nya (laki-laki) juga wudlu’nya (istri dan perempuan lain). Ajnabiyah adalah setiap wanita yang boleh menikahinya. Hal ini juga berdasar firman Allah dalam surat al Nisa’ ayat 43 (tersebut diatas).
- Menyentuh kemaluan (qubul dan dubur) sendiri atau kemaluan orang lain dengan telapak tangan dan (atau dengan) jemari tanpa penghalang.
Imam Nawawi juga menyatakan bahwa sahabat-sahabat kami (Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i) berkata bahwa arah redaksi “menyentuh atau al lamsu” adalah mutlak. Ketika dua kulit (antara laki-laki dan istri atau wanita lain) bertemu, maka merusak (membatalkan) wudlu', baik dengan tangan atau berhubungan intim.
Berdasar pemaparan tersebut di atas, secara eksplisit maupun implisit dapat diketahui bahwa wudlu’ pasangan suami istri yang berjabat tangan atau bertemu kulit secara langsung (tidak ada penghalang) adalah batal (lihat term No. 4). Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:
نواقص الوضوء:
وينتقص الوضوء بخمسة أشياء:
1ـ كل ما خرج من أحد السبيلين من بول أو غائط أو دم أو ريح: قال تعالى: (لو جاء أحد منكم الغائط) [النساء: 42]. أي مكان قضاء الحاجة، وقد قضى حاجته من تبرز أو تبول. والغائط هو المكان المنخفض، وفي مثله تقضى الحاجة من تبرز أو تبول. والغائط هو المكان المنخفض، وفي مثله نقضى الحاجة غالباً وعادة.
وروى البخاري (135) ومسلم (225) عن أبي هريرة - رضي الله عنه - قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: "ولا يقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ". فقال رجل من أهل حضر موت ك ما الحدث يا أبا هريرة؟ قال فساء أو ضراط.
وقيس على ما ذكر كل خارج من القبل أو الدبر، ولو كان طاهراً.
2ـ النوم غير المتمكن: والتمكن أن يكون جالساً ومقعدته ملتصقة بالأرض، وغير التمكن أن يكون هناك نجاف بين مقعدته والأرض، قال رسول الله - صلى الله وواضح أنهم ناموا جالسين على هيئة التمكن، لأنهم كانوا في المسجد ينتظرون الصلاة، وعلى أمل أن يقطع حديثه - صلى الله عليه وسلم - فجأة ويصلي بهم.
3ـ زوال العقل بسكر أو إعماء أو مرض، أو جنون: لأن الإنسان إذا انتابه شيء من ذلك كان هذا مظنة أن يخرج منه شيء من غير ان يشعر، وقياساً على النوم، لأنه أبلغ منه في معناه.
4ـ لمس الرجل زوجته أو المرأة الأجنبية من غير حائل، فإنه ينتقض وضوؤه ووضوؤها. والأجنبية هي كل امرأة يحل له الزواج بها. قال تعالى في بيان موجبات الوضوء: (أو لامستم النساء) [النساء: 42]. أي لمستم كما في قراءة متواترة.
5ـ مس الفرج نفسه أو من غيره، قبلاً أو دبراً، بباطن الكف والأصابع من غير حائل.
الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي (1/ 62)
Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi:
قَالَ أَصْحَابُنَا وَنَحْنُ نَقُولُ بِمُقْتَضَى اللَّمْسِ مُطْلَقًا فَمَتَى الْتَقَتْ الْبَشَرَتَانِ انْتَقَضَ سَوَاءٌ كَانَ بِيَدٍ أَوْ جِمَاعٍ.
وَاسْتَدَلَّ مَالِكٌ ثُمَّ الشَّافِعِيُّ وَأَصْحَابُهُمَا بِحَدِيثِ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بن عبد الله ابن عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ (قَالَ قُبْلَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَجَسُّهَا بِيَدِهِ مِنْ الْمُلَامَسَةِ فَمَنْ قَبَّلَ امْرَأَتَهُ أَوْ جَسَّهَا بِيَدِهِ
المجموع شرح المهذب (2/ 31)
Referensi:
- Al-Fiqh Al-Manhaji ‘Ala Madzhab Al-Imam Al-Syafi’i. I/ 62
- Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab. II/ 31
=========
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Tamam Reyadi
- Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
PERUMUS Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1656549864558567/)

Komentar
Posting Komentar