DOC-360. Hukum Menerobos Lampu Merah

 

Vivi
30 Agustus pukul 11:40

Assalamu'alaikum para master MTTM.
Saya muncul lagi. Kali ini saya ingin bercerita, kemarin saya bersama keluarga hendak ke kota. Nah.... pas disebuah perempatan, mobil kami berhenti karena lampu lalin menunjukkan warna merah. Setelah lampu lalin menunjukkan waran hijau, ayah saya menginjak gas, eeeee.... tiba-tiba ada motor yang nyelonong. Ups..... hampir saja nyeruduk mobil kami.
Pertanyaannya, bagaimanakah hukum menerobos lampu merah? Atas jawabannya, matur thank's. I love U MTTM.

=========

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Bagaimanakah hukum menerobos lampu merah?

    Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Amr Ba’alawi berkata: “Intinya, wajib menta’ati imam (pemerintah) dalam segala hal yang diperintahkan (peraturan yang diterapkan) baik secara lahir maupun batin, ya’ni dari hal-hal yang tidak diharamkan atau dibenci (makruh). Maka menta’ati peraturan yang bersifat wajib adalah lebih dikukuhkan (untuk dita’ati), sedang menta’ati peraturan yang bersifat sunah adalah wajib. Demikian juga peraturan yang bersifat “mubah” yang didalamnya terdapat kemaslahatan, seperti larangan merokok ketika divonis makruh karena terdapat unsur kehinaan dengan prilaku merokok. Dan telah berlaku bahwa sesungguhnya presiden memerintahkan kepada instansi terkait untuk menerapkan pelarangan merokok di pasar dan warung kopi. Namun peraturan tersebut dilanggar dan mereka merokok ditempat-tempat terlarang, maka mereka telah berlaku ma’siat, dan hukum merokok pada saat peraturan tersebut diterapkan adalah haram sebagai pengaplikasian sebuah keta’atan terhadap peraturan.
    Imam Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al Haitami juga menuturkan bahwa hal yang telah dibahas dalam pemaparan para Ulama’ adalah mengukuhkan kewajiban ta’at terhadap imam (pemerintah) dalam perintah dan larangannya selagi tidak kontradiksi dengan syara’, ya’ni bukan perintah melakukan hal yang diharamkan. Pendapat yang terpercaya menyatakan bahwa sesungguhnya perintah (peraturan) yang didalamnya tidak ada unsur kemaslahatan secara umum dan universal tidak wajib dita’ati kecuali keta’atan yang hanya bersifat lahiriah, berbeda jika didalam perintah (peraturan) tersebut mengandung unsur kemaslahatan, maka wajib ditaati secara lahir dan batin. Dan perbedaan itu jelas bahwa sesungguhnya kewajiban yang semacam itu (wajib dita’ati secara lahir dan batin) adalah berlaku dalam segala hal yang layak bagi setiap individu, bukan secara kolektif.
    Berdasar pemaparan tersebut di atas, secara implisit dapat diketahui bahwa hukum menerobos lampu merah adalah haram, karena dalam penerapan peraturan tersebut terdapat kemaslahatan yang bersifat umum dan universal serta dapat membahayakan terhadap keselamatan diri dan orang lain apabila dilanggar, maka wajib untuk dita’ati. Wallahu a’lam bis shawab.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Ibnu Malik:

والحاصل أنه تجب طاعة الإمام فيما أمر به ظاهراً وباطناً مما ليس بحرام أو مكروه ، فالواجب يتأكد ، والمندوب يجب ، وكذا المباح إن كان فيه مصلحة كترك شرب التنباك إذا قلنا بكراهته لأن فيه خسة بذوي الهيئات ، وقد وقع أن السلطان أمر نائبه بأن ينادي بعدم شرب الناس له في الأسواق والقهاوي ، فخالفوه وشربوا فهم العصاة ، ويحرم شربه الآن امتثالاً لأمره ، ولو أمر الإمام بشيء ثم رجع ولو قبل التلبس به لم يسقط الوجوب اه

بغية المسترشدين – 1 - 189

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Jojo Finger-looser ItmyLife:

نَعَمْ يُؤَيِّدُ مَا بَحَثَهُ قَوْلُهُمْ تَجِبُ طَاعَةُ الْإِمَامِ فِي أَمْرِهِ وَنَهْيِهِ مَا لَمْ يُخَالِفْ الشَّرْعَ أَيْ بِأَنْ لَمْ يَأْمُرْ بِمُحَرَّمٍ وَهُوَ هُنَا لَمْ يُخَالِفْهُ؛ لِأَنَّهُ إنَّمَا أَمَرَ بِمَا نَدَبَ إلَيْهِ الشَّرْعُ وَقَوْلُهُمْ يَجِبُ امْتِثَالُ أَمْرِهِ فِي التَّسْعِيرِ إنْ جَوَّزْنَاهُ أَيْ كَمَا هُوَ رَأْيٌ ضَعِيفٌ نَعَمْ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّ مَا أَمَرَ بِهِ مِمَّا لَيْسَ فِيهِ
مَصْلَحَةٌ
عَامَّةٌ لَا يَجِبُ امْتِثَالُهُ إلَّا ظَاهِرًا فَقَطْ بِخِلَافِ مَا فِيهِ ذَلِكَ يَجِبُ بَاطِنًا أَيْضًا، وَالْفَرْقُ ظَاهِرٌ وَأَنَّ الْوُجُوبَ فِي ذَلِكَ عَلَى كُلِّ صَالِحٍ لَهُ عَيْنًا لَا كِفَايَةً إلَّا إنْ خَصَّصَ أَمْرَهُ بِطَائِفَةٍ فَيَخْتَصُّ بِهِمْ فَعُلِمَ أَنَّ قَوْلَهُمْ إنْ جَوَّزْنَاهُ قَيْدٌ لِوُجُوبِ امْتِثَالِهِ ظَاهِرًا وَإِلَّا فَلَا إلَّا إنْ خَافَ فِتْنَةً كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ فَيَجِبُ ظَاهِرًا فَقَطْ وَكَذَا يُقَالُ فِي كُلِّ أَمْرٍ مُحَرَّمٍ عَلَيْهِ بِأَنْ كَانَ بِمُبَاحٍ فِيهِ ضَرَرٌ عَلَى الْمَأْمُورِ بِهِ، وَإِنَّمَا لَمْ يَنْظُرْ الْإِسْنَوِيُّ لِلضَّرَرِ فِيمَا مَرَّ عَنْهُ؛ لِأَنَّهُ مَنْدُوبٌ وَهُوَ لَا ضَرَرَ فِيهِ يُوجِبُ تَحْرِيمَ أَمْرِ الْإِمَامِ بِهِ
لِلْمَصْلَحَة
الْعَامَّةِ بِخِلَافِ الْمُبَاحِ

تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي (3/ 71)

Daftar Pustaka:

  1. Bughyah Al-Mustarsyidin. I/ 189
  2. Tuhfah Al-Muhtaj Fi Syarhi Al-Minhaj. III/ 71

=========

MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)

MUSHAHIH:

  1. Al-Ustadz Tamam Reyadi
  2. Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan
  3. Al-Ustadz Abdul Malik
  4. Al-Ustadz Ro Fie
  5. Al-Ustadz Moh Ilhamudin
  6. Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
  7. Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi


PERUMUS Dan EDITOR:

I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif


(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1657371977809689/)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DOC_142. Yang Dimaksud Perampok Dalam Untaian Kata Hikmah

DOC_99. Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Berhubungan Intim

Hukum Mengganti Nama