DOC-361. Hukum Shalat Dengan Mengenakan Pakaian Wanita Haidl
Rifai Ahmad
1 September 2015 pukul 18:33
assalamu'alaikum
afwan ustadz mw nanya, saya punya tmn cewek dia nanya tentang:
1. Apakah kita boleh memakai baju yg d pakai pada saat haid untuk sholat?
2. Ketika kita sudah tidak haid pada waktu dzuhur, dan bersuci pada waktu ashar, karena takut masih haid, jadi kita kasih waktu misalkan satu hari lagi untuk memastikan mash keluar apa enggak,,,,,,,apakah kita wajib mengkodo sholat dzuhurnya?
3. bagaimana hukumnya ketika kita bersuci tidak memakai sampoe/sabun
Syukron Ustadz,dan d mohon beserta rujukan-rujukannya,supaya saya bisa lebih yakin
=========
JAWABAN:
Wa’alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
- Bolehkan mengenakan baju yang dipakai pada saat haidl untuk melaksanakan shalat?
- Ketika sudah tidak haidl pada waktu dzuhur, dan bersuci pada waktu ashar, karena takut masih haidl, ia masih menunda misalkan satu hari lagi untuk memastikan masih keluar atau tidak, apakah wajib mengqadla’ shalat dzuhur?
- Bagaimankah hukum bersuci tidak menggunakan sampo atau sabun?
I. Imam Abul Hasan al Mawardi mengutip pernyataan imam Syafi’i yang menyatakan bahwa “Diperbolehkan melaksanakan shalat dengan mengenakan baju yang dikenakan oleh wanita yang sedang haidl juga baju yang dikenakan oleh orang yang melakukan hubungan intim dengan istrinya.” Al Mawardi juga mengungkapkan bahwa pakaian wanita yang sedang haidl dan nifas adalah suci selagi tidak terkena atau tidak diketahui adanya najis, dan malaksanakan shalat dengan mengenakannya adalah boleh. Adapun dalil diperbolehkannya hal tersebut adalah hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa sesungguhnya beliau pernah bersabda kepada ‘Aisyah “Ambilkan aku tikar kecil.” ‘Aisyah menjawab “Saya sedang menstruasi wahai utusan Allah.” Maka Rasulullah bersabda “Tidaklah darah haidl ditanganmu.” Hal senada juga diulas oleh Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi.
Berdasar pemaparan tersebut, maka hukum melaksanakan shalat dengan mengenakan pakaian wanita yang sedang haidl adalah diperbolehkan selama pakaian tersebut tidak terkena najis atau diketahui terdapat najis.
II. Imam Abu Bakar bin Muhammad Syatha al Dimyathi didalam kitabnya (I’anah al Thalibin) menjelaskan bahwa tidak wajib bersegera melaksanakan mandi, yang dimaksud adalah hukum asal, dan tidak terjadi kontradiksi jika waktu shalat telah sempit setelah mengeluarkan sperma atau berhentinya darah haidl, maka wajib bersegera melaksanakan mandi, bukan karena hal (dzat, jinabah atau terhentinya darah haidl) itu sendiri, melainkan karena tidak dapat melaksanakan shalat pada waktunya (jika tidak bersegera mandi).
Imam Nawawi juga menjelaskan bahwa ketika anak kecil telah mencapai usia baligh, atau orang kafir masuk Islam, atau wanita yang mengalami haidl atau nifas telah suci, atau orang gila dan (atau) orang yang mengalami epilepsi telah sembuh, sedang waktu shalat masih cukup untuk melaksanakan 1 raka’at, maka ia wajib melaksanakan shalat (waktu) tersebut. Hal itu berdasar pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Barang siapa menjumpai 1 raka’at sebelum terbitnya matahari, maka ia menjumpai (waktu) shalat subuh, dan barang siapa menjumpai 1 raka’at (dari shalat ashar) sebelum matahari terbenam, maka ia menjumpai (waktu) shalat ashar.”
Syaikh Nawawi al Batani menegaskan bahwa jika hal-hal yang mencegah (pelaksanaan shalat) telah hilang sedang masih tersisa waktu yang dapat dipergunakan untuk melaksanakan takbiratul ihram, maka wajib baginya melaksanakan shalat (waktu) tersebut, demikian juga shalat (waktu) sebelumnya jika keduanya (shalat) bisa dijama’.
Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa orang yang menunda mandi pada saat hilangnya hal yang mencegah pelaksanaan shalat seperti wanita yang suci dari haidl atau nifas hingga berlalunya waktu shalat (sebagaimana deskripsi masalah), maka ia telah berdosa dan wajib mengganti shalat (waktu suci) dan shalat sebelumnya jika keduanya bisa dijama’.
III. Al Ustadz Amr Abdul Razaq didalam kitabnya (Mabadi’ al Fiqhiyah) menjelaskan sebagai berikut:
Soal: Apa sajakah alat bersuci?
Jawab: Alat bersuci adalah air, tanah/debu, batu, penyamakan dan sabun. Sedangkan air yang boleh digunakan untuk bersuci adalah air yang turun dari langit dan bersumber dari bumi, serta tidak najis dan tidak musta'mal.
Didalam sebuah literatur Fiqh (al Iqna’ Fi Hilli Alfadzi Abi Syuja’) juga dijelaskan bahwa syarat wudlu’ dan mandi adalah:
- Mengunakan air mutlak.
- Mengetahui bahwa air (yang dipergunakan) tersebut adalah air mutlak walaupun hanya sekedar asumsi.
- Tidak ada yang menghalangi sampainya air pada anggota (yang wajib dibasuh).
- Mengalirkan air keseluruh anggota tubuh (yang wajib dibasuh).
- Tidak ada hal yang dapat menggugurkan (menafikan) mandi tersebut seperti haid dan lain-lain.
Berdasar uraian tersebut, dapat diketahui secara pasti bahwa bersuci tidak harus menggunakan shampoo atau sabun. Maka bersuci tanpa menggunakan shampoo atau sabun adalah sah. Wallahu a’lam bis shawab.
Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:
مَسْأَلَةٌ : قَالَ الشَّافِعِيُّ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : " وَيَجُوزُ أَنْ يُصَلَّى بِثَوْبِ الْحَائِضِ ، وَالثَّوْبِ الَّذِي جَامَعَ فِيهِ الرَّجُلُ أَهْلَهُ " .
قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ : وَأَمَّا ثَوْبُ الْحَائِضِ ، وَالنُّفَسَاءِ حكم الصلاة فيهما فَطَاهِرَانِ إِنْ لَمْ يُعْلَمْ فِيهِمَا نَجَاسَةٌ ، وَالصَّلَاةُ فِيهِ جَائِزَةٌ ، وَالدَّلَالَةُ عَلَى ذَلِكَ مَا رُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} أَنَّهُ قَالَ لِعَائِشَةَ : نَاوِلِينِي الْخُمْرَةَ ، فَقَالَتْ : أَنَا حَائِضٌ ، فَقَالَ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} : لَيْسَتِ الْحَيْضَةُ فِي يَدِكِ فَأَمَّا ثَوْبُ الْجُنُبِ الَّذِي جَامَعَ فِيهِ أَهْلَهُ طهارته والصلاة فيه فَطَاهِرٌ أَيْضًا ، وَالصَّلَاةُ فِيهِ جَائِزَةٌ مَا لَمْ يُعْلَمْ فِيهِ نَجَاسَةٌ لِرِوَايَةِ مَيْمُونَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} كَانَ يُصَلِّي فِي الثَّوْبِ الَّذِي يُجَامِعُ أَهْلَهُ فِيهِ .
الحاوى الكبير ـ الماوردى (2/ 574)
Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
(الثانية) قال الشافعي والاصحاب رحمهم الله تجوز الصلاة في ثوب الحائض والثوب التي تجامع فيه إذا لم يتحقق فيهما نجاسة ولا كراهة فيه قالوا وتجوز في ثياب الصبيان والكفار والقصابين ومدمنى الخمر وغيرهم إذا لم يتحقق نجاستها لكن غيرها أولى وسبق في كتاب الطهارة بيان خلاف ضعيف في هؤلاء
المجموع (3/ 164)
Dasar pengambilan (3) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
(قوله: ولا يجب فورا) أي ولا يجب الغسل على الفور.
والمراد أصالة فلا يرد، ما لو ضاق وقت الصلاة عقب الجنابة أو انقطاع الحيض فإنه يجب فورا، لا لذاته بل لايقاع الصلاة في وقتها.
حاشية إعانة الطالبين (1/ 86)
Dasar pengambilan (4) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
قال المصنف رحمه الله * * (إذا بلغ الصبي أو اسلم الكافر أو طهرت الحائض أو النفساء أو افاق المجنون أو المغمى عليه وقد بقى من وقت الصلاة قدر ركعة لزمه فرض الوقت لما روى أبو هريرة رضى الله عنه ان النبي صلي الله عليه وسلم قال (من ادرك ركعة من الصبح قبل ان تطلع الشمس فقد ادرك الصبح ومن ادرك ركعة من العصر قبل ان تغرب الشمس فقد ادرك العصر)
المجموع (3/ 64)
Dasar pengambilan (5) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:
أو زال المانع وقد بقي من الوقت قدر تكبيرة لزمته، وكذا ما قبلها إن جمعت معها. إهـ
سلم التوفيق ص 18 مكتبة الهداية سورابايا
Dasar pengambilan (6) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:
س ـ ما وسائل الطهارة؟
ج ـ الماء، والتراب، والحجر، والدبغ، والصابون.
س ـ ما الماء الذي يجوز به التطهير؟
ج ـ هو كل ما نزل من السماء أو نبع من الأرض، ولم يكن متنجسا ولا مستعملا.
المبادئ الفقهية للأستاذ عمر عبد الجبار ج 2 ص 7-8 على نفقة عوض بن عبد الله التميمي سورابايا - إندونيسيا
Dasar pengambilan (7) oleh al-Ustadz Imam Al-Bukhori:
(القول في شروط الوضوء والغسل) فشروطه، وكذا الغسل: ماء مطلق، ومعرفة أنه مطلق ولو ظنا، وعدم الحائل، وجري الماء على العضو وعدم المنافي من نحو حيض ونفاس في غير أغسال الحج ونحوها.
الاقناع في حل ألفاظ أبى شجاع (1/ 32)
Referensi:
- Al-Hawi Al-Kabir. I/ 574
- Al-Majmu’. III/ 164
- Hasyiyah I’anah Al-Thalibin. I/ 86
- Al-Majmu’. III/ 64
- Sullam Al-Taufiq. 18
- Al-Mabadi’ Al-Fiqhiyah. II/ 7-8
- Al-Iqna’ Fi Hilli Alfadzi Abi Syuja’. I/ 32
=========
MUSYAWIRIN:
Member Group Majlis Ta'lim Tanah Merah (MTTM)
MUSHAHIH:
- Al-Ustadz Tamam Reyadi
- Al-Ustadz Wesqie Zidan Ardan
- Al-Ustadz Abdul Malik
- Al-Ustadz Ro Fie
- Al-Ustadz Moh Ilhamudin
- Al-Ustadz Imam Al-Bukhori
- Al-Ustadz Ibnu Hasyim Alwi
PERUMUS Dan EDITOR:
I. Al-Ustadz Ibnu Malik
II. Al-Ustadzah Naumy Syarif
(Link Diskusi: https://www.facebook.com/groups/MTTM1/permalink/1658078314405722/)

Komentar
Posting Komentar